Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada awal pekan perdagangan, Senin (22/6/2026), dengan proyeksi bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar Amerika Serikat. Tekanan ini terutama dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, mulai dari perkembangan geopolitik Timur Tengah hingga sentimen pasar keuangan global.
Dari sisi global, meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran melalui kesepakatan damai sementara telah meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pemulihan jalur perdagangan internasional, termasuk aktivitas pelayaran komersial dan distribusi minyak mentah. Kondisi ini ikut menggeser arah harga komoditas energi serta memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman di tengah transisi sentimen risiko.
Sementara itu, pasar juga merespons keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori negara berkembang (emerging market). Meski status tersebut tetap dipertahankan, MSCI masih menyoroti isu transparansi di pasar saham domestik yang dinilai dapat memengaruhi persepsi investor global. Situasi ini membuat arus modal asing berpotensi kembali masuk secara selektif, namun belum cukup kuat untuk mendorong penguatan signifikan rupiah dalam jangka pendek.
Analis pasar uang menilai kombinasi faktor tersebut membuat rupiah masih rentan terhadap tekanan dolar AS, terutama di tengah sikap investor global yang cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko. Selain itu, dinamika harga minyak dunia dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memperkuat posisi greenback di pasar valuta asing.
Sejalan dengan itu, sejumlah media internasional seperti Reuters dan Bloomberg menyoroti bahwa penguatan dolar AS dalam beberapa sesi terakhir banyak dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan aset safe haven serta respons pasar terhadap perkembangan geopolitik dan prospek suku bunga The Federal Reserve.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap wait and see sambil mencermati arah kebijakan global serta aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Sentimen eksternal diperkirakan tetap menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah pada awal pekan ini. (Sn)