Jakarta|EGINDO.co Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,50% dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 17–18 Juni 2026. Proyeksi tersebut muncul setelah bank sentral melakukan pengetatan kebijakan moneter secara agresif melalui dua kali kenaikan suku bunga sepanjang Mei hingga awal Juni dengan total 75 basis poin (bps).
Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menilai ruang untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat relatif kecil mengingat kenaikan sebelumnya sudah cukup besar. Menurutnya, kebijakan moneter yang telah ditempuh BI masih memerlukan waktu untuk melihat dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar, inflasi, dan aktivitas ekonomi.
“Sepertinya enggak, udah kayaknya enggak. Udah berapa kali naik kan, jumping,” ujar Hery di sela Konferensi Pers Hasil Kajian UMKM Perbanas 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).
Senada dengan itu, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas, Aviliani, mengatakan BI sebenarnya masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga apabila mempertimbangkan selisih suku bunga dengan bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Namun, menurutnya kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat akibat meningkatnya imbal hasil SRBI serta penarikan dana pemerintah telah mendorong kenaikan biaya dana, sehingga tambahan kenaikan BI Rate belum tentu diperlukan saat ini.
Pandangan Perbanas sejalan dengan sejumlah proyeksi lembaga riset dan pelaku pasar. LPEM FEB UI memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,50% agar dapat mengevaluasi dampak kebijakan pengetatan yang telah dilakukan, sementara Bloomberg Technoz juga melaporkan mayoritas analis memandang peluang BI menahan suku bunga lebih besar seiring mulai meredanya tekanan eksternal dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Meski demikian, sebagian ekonom masih membuka peluang adanya kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan terhadap rupiah maupun risiko global kembali meningkat. Dengan demikian, fokus utama Bank Indonesia dinilai tetap mengarah pada menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional. (Sn)