Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak menguat secara terbatas pada perdagangan Rabu (17/6/2026) di kisaran Rp17.690–Rp17.728 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh melemahnya indeks dolar Amerika Serikat setelah tercapainya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Membaiknya kondisi geopolitik tersebut turut menekan harga minyak dunia dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, sehingga memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mewaspadai rencana pemerintah Amerika Serikat yang berpotensi mengenakan tarif impor hingga 18% terhadap sejumlah produk Indonesia. Kebijakan ini dinilai dapat mengurangi daya saing ekspor nasional, menekan investasi, serta berdampak pada sektor industri dan penyerapan tenaga kerja.
Selain itu, perhatian investor pada Rabu (17/6/2026) juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter dari Federal Reserve dan Bank of England. Hasil pertemuan kedua bank sentral tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Sejumlah media internasional, seperti Reuters dan Bloomberg, juga melaporkan bahwa meredanya ketegangan di Timur Tengah telah memperbaiki sentimen pasar global. Meski demikian, investor tetap berhati-hati sambil menunggu sinyal lebih lanjut terkait arah suku bunga Amerika Serikat. (Sn)