Nilai Tukar Rupiah Kemarin Ditutup Dibawah Rp18.000,- Berlian Moktar: Pemerintah Harus Keluarkan Kebijakan yang Sejuk

Brilian Moktar, SE, MM, MH
Brilian Moktar, SE, MM, MH

Medan | EGINDO.com – Nilai tukar rupiah kemarin Senin (15/6/2026) petang ditutup dibawah Rp18.000,- untuk itu pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang sejuk sehingga pasar tidak bergejolak dan semoga terus bertahan dibawah Rp.18.000, per dolar AS.

Hal itu dikatakan Brilian Moktar, SE, MM, MH pada Selasa (16/6/2026) menjawab pertanyaan EGINDO.com di Medan ketika penutupan rupiah spot ditutup pada level Rp 17.709 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pada Senin (15/6/2026) petang.

Brilian Moktar menilai posisi rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.709 per dolar Amerika Serikat menunjukkan adanya penguatan sebesar 0,85% bila dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu yang ada pada level Rp 17.860 per dolar AS. Namun, harus diwaspadai bisa langsung naik tajam ketika rupiah spot dibuka setelah hari libur.

“Takutnya, ketika dibuka setelah banyaknya hari libur, nilai tukar rupiah langsung naik tajam. Harus hati-hati dengan adanya kesempatan para spekulasi bermain bang, bisa naik, juga bisa turun saat pasar moneter dibuka kembali,” kata Berlian Moktar kepada EGINDO.com mengingatkan.

Menurutnya, harusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sejuk untuk iklim usaha agar kondisi nilai tukar rupiah tetap stabil. Nilai tukar rupiah diatas Rp18.000,- bertahan selama sepekan. selama sepekan nilai tukar rupiah di pasar spot tidak mampu keluar dari tekanan.

Pakar Ekonomi dan politisi senior Brilian Moktar menilai, pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga menembus level di atas Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan di Indonesia. Menurutnya, pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari global maupun domestik. Dari sisi global, harga minyak yang masih tinggi menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar. Sedangkan dari dalam negeri, ketahanan cadangan devisa serta kondisi fiskal Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Brilian Moktar memberikan pandangan terkait langkah yang dapat diambil masyarakat, khususnya investor, dalam menghadapi kondisi rupiah yang melemah. Disarankannya para investor untuk mempertimbangkan pengalihan aset ke dolar AS, seiring prospek penguatan mata uang tersebut ke depan.

“Nah, untuk itu harusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sejuk bagi dunia usaha, saya rasa pemerintah tidak kuat, jika terus mengadakan intervensi terhadap mata uang asing karena kondisi kekuatan fiskal kita. Ingat bukan saja untuk negara Indonesia akan tetapi negara mana pun juga pasti tidak kuat,” kata Brilian Moktar menegaskan.@

Fd/timEGINDO.com

Scroll to Top