Jakarta|EGINDO.co Kinerja sektor ritel domestik dilaporkan mengalami perlambatan setelah melewati puncak musim perayaan keagamaan. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) pada April 2026 mengalami penyusutan sebesar 11,6% dibanding bulan sebelumnya (month-to-month/MtM). Padahal, pada Maret 2026, sektor ini sempat melesat dengan pertumbuhan mencapai 10,3% MtM.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa kemerosotan ini merupakan siklus tahunan yang wajar. Pola konsumsi masyarakat kembali ke level normal setelah melonjak drastis selama momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Sejalan dengan rilis BI tersebut, data dari CNN Indonesia juga menyebutkan bahwa penurunan omzet pedagang eceran pasca-lebaran merupakan fenomena musiman yang kerap berulang akibat berakhirnya penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) dan penurunan belanja rumah tangga.
Berikut adalah detail performa retail berdasarkan data bank sentral:
Sektor ritel yang Mengalami Penurunan Terparah
Kemunduran omzet pada April 2026 terjadi hampir di seluruh kategori barang dagangan. Jika ditinjau secara bulanan (MtM), tiga sektor dengan kejatuhan paling tajam meliputi:
-
Kelompok Komoditas Lainnya: Merosot hingga -16,6%
-
Kategori Rekreasi dan Budaya: Turun sebesar -12,5%
-
Sektor Pangan, Minuman, dan Tembakau: Terkoreksi -12,3%
Sementara itu, apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (year-on-year/YoY), penjualan ritel terkontraksi 3,7%. Angka negatif ini sekaligus memutus tren pertumbuhan tahunan yang sempat bertahan positif selama satu tahun terakhir. Penurunan YoY ini utamanya disebabkan oleh lesunya permintaan pada sektor Alat Informasi dan Komunikasi (-26,4%), industri Fashion/Sandang (-7,0%), serta sektor Makanan, Minuman, dan Tembakau (-3,8%).
Proyeksi Pemulihan pada Mei 2026
Memasuki bulan Mei 2026, BI memperkirakan aktivitas perdagangan eceran akan mulai menunjukkan sinyal perbaikan, meskipun secara keseluruhan masih berada di zona kontraksi. Penjualan bulanan diprediksi membaik ke angka -0,9% MtM, sementara secara tahunan diperkirakan menyusut tipis di level -3,2% YoY.
“Laju koreksi penjualan eceran yang melandai ini didorong oleh kembali bergairahnya belanja masyarakat, memanfaatkan momentum rangkaian libur panjang HBKN seperti Kenaikan Yesus Kristus, Hari Raya Waisak, serta persiapan menyambut Iduladha,” papar Denny dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026).
Laporan dari Bisnis Indonesia turut memvalidasi proyeksi ini. Analisis mereka menunjukkan bahwa stimulus dari long weekend di bulan Mei berhasil menahan kejatuhan daya beli masyarakat lebih dalam, terutama pada kelompok suku cadang otomotif, aksesori, serta perlengkapan rumah tangga.
Ramalan Pergerakan Harga ke Depan
Selain memotret kondisi pasar ritel, Bank Indonesia juga merilis Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk mengukur arah inflasi dalam jangka pendek dan menengah:
-
Juli 2026 (Prospek 3 Bulan): Tekanan harga di tingkat konsumen diproyeksikan relatif aman dan stabil. Hal ini tecermin dari angka IEH yang berada di posisi 175,8, bergerak sangat tipis dari periode sebelumnya sebesar 175,6.
-
Oktober 2026 (Prospek 6 Bulan): Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga. BI mendeteksi adanya lonjakan grafik IEH ke level 167,6, naik cukup signifikan dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di angka 163,2. (Sn)