Rupiah Menguat, BI Optimistis Tren Positif Berlanjut hingga 2027

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja positif setelah ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Mata uang Garuda tercatat menguat 1,08 persen ke posisi Rp17.940 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah tekanan yang masih dialami sebagian besar mata uang di kawasan Asia.

Penguatan rupiah terjadi ketika sejumlah mata uang regional seperti yen Jepang, yuan China, dolar Singapura, won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan baht Thailand justru mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan arah kebijakan moneter domestik.

Analis pasar menilai sentimen positif berasal dari ekspektasi bahwa Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan suku bunga. Selain itu, keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax dinilai dapat membantu memperkuat keseimbangan eksternal dan mengurangi tekanan terhadap neraca transaksi berjalan.

Memasuki perdagangan Kamis, 11 Juni 2026, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS dengan kecenderungan menguat. Namun, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah faktor eksternal, termasuk data inflasi Amerika Serikat, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, serta pergerakan harga minyak dunia yang berpotensi memengaruhi arus modal global.

Di sisi lain, Bank Indonesia tetap optimistis terhadap prospek jangka menengah rupiah. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 akan berada pada kisaran rata-rata Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi tersebut sejalan dengan kerangka ekonomi makro pemerintah yang tengah disusun untuk tahun 2027.

Optimisme bank sentral didasarkan pada beberapa faktor utama, antara lain potensi meredanya ketidakpastian ekonomi global, fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai semakin kuat, daya tarik investasi domestik yang tetap kompetitif, serta kecukupan cadangan devisa nasional. Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat kebijakan pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam melalui berbagai reformasi regulasi.

Sejumlah media ekonomi terpercaya seperti Bloomberg dan Reuters juga dalam berbagai laporan terbaru menyoroti bahwa stabilitas kebijakan moneter, arus investasi asing, dan penguatan fundamental ekonomi menjadi faktor penting yang mendukung mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dengan kombinasi dukungan kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia, prospek rupiah dalam jangka pendek hingga menengah dinilai tetap cukup terjaga, meskipun volatilitas pasar global masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai. (Sn)

Scroll to Top