Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pada Selasa (9/6/2026) dengan lonjakan signifikan sebesar 7,57% ke level 5.746. Kinerja positif tersebut dipicu oleh respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.
Sepanjang sesi perdagangan, mayoritas saham bergerak di zona hijau. Tercatat sebanyak 708 saham mengalami kenaikan, sementara 99 saham melemah dan 152 saham tidak mengalami perubahan. Nilai transaksi harian mencapai Rp27,80 triliun, mencerminkan tingginya aktivitas investor di pasar modal.
Penguatan IHSG didorong oleh kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 6,19%, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melonjak 13,93%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 7,72%, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) bertambah 2,06%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melesat 10,24%.
Dalam riset yang dirilis pada Rabu (10/6/2026), tim analis MNC Sekuritas menilai IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Secara teknikal, indeks diperkirakan berpotensi bergerak menuju area 5.763 hingga 5.784 sebagai target kenaikan terdekat. Meski demikian, pasar tetap berisiko mengalami koreksi terbatas seiring aksi ambil untung setelah reli kuat pada perdagangan sebelumnya.
MNC Sekuritas memperkirakan area penopang (support) IHSG berada di level 5.523 dan 5.191. Sementara itu, area hambatan (resistance) diproyeksikan berada pada kisaran 5.846 hingga 6.065.
Untuk strategi investasi pada perdagangan Rabu (10/6/2026), investor disarankan mencermati peluang buy on weakness pada saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET). Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) direkomendasikan untuk strategi trading buy.
Pelaku pasar juga akan terus memantau dampak kebijakan suku bunga Bank Indonesia terhadap pergerakan pasar keuangan domestik. Stabilitas nilai tukar rupiah, arus modal asing, dan sentimen global diperkirakan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. (Sn)