Bentengi Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Kerek BI-Rate ke 5,50% dan Obral Insentif Asing

Logo Bank Indonesia (BI)
Logo Bank Indonesia (BI)

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) kembali mengambil langkah agresif demi membentengi nilai tukar rupiah dari tekanan ketidakpastian global. Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar pada Senin, 9 Juni 2026, bank sentral memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh level 5,50%.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan pengetatan moneter bulan lalu, di mana BI juga telah menaikkan suku bunga sebesar 50 bps. Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan ekonomi Bloomberg dan Reuters, penyesuaian beruntun ini dilakukan setelah bank sentral mempertahankan suku bunga rendah di level 4,75% sejak akhir tahun lalu demi menjaga momentum pemulihan domestik.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk memastikan instrumen keuangan domestik tetap kompetitif di pasar internasional.

4 Arsitektur Strategi BI Jaga Stabilitas Rupiah

Selain menaikkan BI-Rate, Perry memaparkan empat strategi utama yang dioptimalkan bank sentral guna memikat modal asing sekaligus menjaga likuiditas perbankan tetap sehat:

1. Dongkrak Imbal Hasil SRBI dan Diskon Biaya Lindung Nilai

BI secara resmi menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh jangka waktu, baik tenor 6, 9, maupun 12 bulan. Guna memberikan stimulus tambahan bagi investor portofolio luar negeri, BI juga memangkas tarif hedging swap sebesar 10%. Penurunan biaya lindung nilai ini diharapkan dapat mengompensasi beban investasi dan meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia.

2. Fasilitas Repo Diperluas Demi Amankan Likuiditas

Untuk memastikan perbankan nasional tidak mengalami kekeringan likuiditas akibat pengetatan moneter, BI mengaktifkan kembali koridor lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3 hingga 12 bulan. Langkah ini ditargetkan mampu menjaga pertumbuhan uang primer (M0) tetap ekspansif di zona dua digit, atau di atas 10%.

3. Amunisi Operasi Moneter Ganda (Rupiah & Valas)

Aktivitas di pasar uang akan ditingkatkan melalui lelang SRBI yang kini dijadwalkan intensif dua kali dalam sepekan. Sementara di sektor valuta asing, BI memperkuat intervensi langsung lewat transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, serta memantau pergerakan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional.

4. Harmonisasi Kebijakan Fiskal-Moneter

BI mempererat kerja sama dengan Kementerian Keuangan dalam mengelola arus kas pemerintah yang ditempatkan di bank sentral. Sinergi ini dirancang agar kebijakan belanja negara dan pengelolaan moneter berjalan seirama, sehingga mampu menopang daya saing imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) di mata investor global.

“Koordinasi fiskal dan moneter yang solid ini akan terus kami perkuat secara berkesinambungan. Kami optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dan memiliki daya tahan tinggi dalam meredam berbagai gejolak eksternal,” ujar Perry dalam konferensi pers di Jakarta.

Melalui bauran kebijakan yang taktis dan integratif ini, Bank Indonesia berharap arus modal asing dapat segera kembali mengalir deras ke pasar domestik, sekaligus memberikan jangkar stabilitas yang kuat bagi pergerakan nilai tukar rupiah ke depan. (Sn)

Scroll to Top