IHSG Masih Rentan Tertekan, Analis Proyeksikan Uji Support Baru

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam fase pelemahan pada perdagangan Senin (8/6/2026), seiring derasnya aksi jual yang masih membayangi pasar modal domestik. Setelah merosot 4,20% pada penutupan perdagangan sebelumnya dan berakhir di level 5.594, indeks acuan Bursa Efek Indonesia tersebut dinilai belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat.

Data perdagangan sepanjang 2–5 Juni 2026 menunjukkan tekanan yang cukup berat. Dalam kurun sepekan, IHSG terkoreksi hingga 8,69%, sementara nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut menjadi sekitar Rp9.807 triliun. Pelemahan tersebut menjadikan kinerja IHSG sebagai salah satu yang terburuk dibanding sejumlah bursa utama dunia dalam periode yang sama.

Tim riset MNC Sekuritas menilai tren penurunan masih berpotensi berlanjut. Secara teknikal, indeks diperkirakan masih bergerak dalam fase koreksi yang membuka peluang penurunan menuju area 5.395–5.412. Level tersebut sekaligus menjadi area yang dipantau pelaku pasar sebagai zona penutupan gap dan titik pengujian rata-rata pergerakan jangka panjang.

Untuk perdagangan awal pekan, MNC Sekuritas memetakan area support IHSG di level 5.517 dan 5.381, sedangkan resistance berada pada kisaran 5.941 hingga 6.588.

Sementara itu, laporan Bursa Efek Indonesia yang dikutip sejumlah media menunjukkan bahwa meski IHSG mengalami tekanan tajam, aktivitas transaksi masih relatif tinggi. Frekuensi transaksi harian meningkat lebih dari 14% dan volume perdagangan naik sekitar 8,6% dibandingkan pekan sebelumnya, menandakan tingginya aktivitas jual beli di tengah volatilitas pasar.

Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA). Sebaliknya, saham PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ) dinilai lebih tepat untuk strategi sell on strength karena berpotensi mengalami koreksi setelah reli yang cukup signifikan.

Pelaku pasar kini menantikan sentimen baru yang dapat meredam tekanan jual dan membantu mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik. Namun dalam jangka pendek, volatilitas masih diperkirakan tetap tinggi sehingga investor disarankan menerapkan manajemen risiko yang disiplin. (Sn)

Scroll to Top