Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini setelah ditutup di level terlemah sepanjang sejarah pada Kamis, 4 Juni 2026, yakni Rp18.049 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah pada Jumat, 5 Juni 2026, masih akan dibayangi volatilitas tinggi. Ia memperkirakan kurs rupiah bergerak di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS seiring kuatnya pengaruh sentimen global terhadap pasar keuangan.
Tekanan terhadap mata uang Garuda terutama berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Meskipun Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, investor masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait implementasi kesepakatan tersebut di lapangan.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar pada Jumat, 5 Juni 2026, juga tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menjadi salah satu indikator utama arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati dampak kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memperbesar beban fiskal pemerintah. Kekhawatiran terhadap kemungkinan pelebaran defisit anggaran, isu intervensi pemerintah di sektor komoditas, serta belum adanya kepastian terkait evaluasi status pasar modal Indonesia oleh MSCI turut menjadi faktor yang membebani sentimen investor.
Sejumlah media ekonomi internasional seperti Reuters dan Bloomberg juga melaporkan bahwa mata uang negara berkembang saat ini menghadapi tekanan akibat kombinasi ketegangan geopolitik, pergerakan dolar AS, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.
Sementara itu, analis pasar modal Nafan Aji Gusta menilai rupiah masih memiliki peluang untuk menguat apabila didukung langkah stabilisasi yang konsisten dari Bank Indonesia, disiplin fiskal pemerintah, serta meningkatnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Namun, risiko pelemahan tetap terbuka apabila terjadi arus keluar modal asing, memburuknya defisit transaksi berjalan, kebijakan The Fed yang lebih agresif, maupun meningkatnya tensi geopolitik global.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada Jumat, 5 Juni 2026, diperkirakan masih akan berada dalam fase penuh tekanan dengan pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik. (Sn)