Jakarta | EGINDO.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mendorong rupiah tembus rekor terburuk, emiten Pulp and Paper berpeluang cuan. Ada dua nama besar Grup Sinarmas yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), diperkirakan menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan.
Pasalnya, dengan struktur pendapatan yang didominasi dolar AS, pelemahan rupiah berpotensi langsung mengerek nilai pendapatan dalam mata uang domestic dimana emiten yang pendapatannya berbasis dolar AS akan langsung terdorong saat rupiah melemah.
Sejumlah analis memperkirakan dampak tersebut akan dirasakan emiten pulp and paper di Indonesia. Namun, para analis juga mengatakan dampak positif itu tidak secara otomatis dan merata untuk semua emiten pulp and paper di Indonesia. Artinya, dampak positif tersebut tidak merata.
Para analis melihat untuk emiten INKP dinilai memiliki keunggulan lebih kuat dibanding emiten TKIM, terutama dari sisi efisiensi biaya dan ekspansi kapasitas produksi. Hal tersebut terkait dengan biaya seperti bahan baku, energi, hingga suku cadang memang juga berbasis dolar.
Artinya, komponen yang berbasis dolar harus dikelola dengan baik dan INKP disebut-sebut lebih mampu mengelola struktur biaya secara optimal pasca ekspansi pabrik Karawang. Penguatan dolar atau melemahnya rupiah terhadap dolar AS dinilai masih bisa menopang margin kedua emiten.
Kata kuncinya kata para analis tergantung kemampuan manajerial perusahaan pulp and paper. Untuk emiten INKP dinilai lebih optimal dalam memanfaatkan momentum tersebut berkat skala usaha yang lebih besar dan efisiensi operasional yang lebih baik.
Bila melihat dari kinerja kuartal I-2026. INKP mencatat laba bersih US$ 156,12 juta, naik 11,43% secara tahunan, dengan pendapatan tumbuh 4,29% menjadi US$ 816,29 juta. Sementara itu TKIM hanya membukukan kenaikan pendapatan 2,47% menjadi US$261,54 juta. Sedangkan laba bersihnya justru turun 17,19% menjadi US$ 81,71 juta.
INKP dinilai lebih mampu menjaga efisiensi dan margin, sedangkan TKIM masih terbebani beban keuangan serta margin operasional yang tipis. Selain itu, TKIM juga lebih rentan terhadap fluktuasi harga pulp global, sementara itu INKP mulai mengandalkan segmen kertas industri dengan margin yang lebih stabil.
Pada memasuki kuartal II-2026, prospek INKP dipandang masih lebih menarik. Utilisasi pabrik Karawang diperkirakan meningkat hingga 30%, dengan proyeksi pendapatan tahun penuh mendekati US$ 3,8 miliar dan laba bersih hampir US$700 juta. Margin EBITDA juga diproyeksikan berada di kisaran 30%. Sebaliknya, kinerja TKIM diperkirakan cenderung stagnan akibat belum adanya tambahan kapasitas dan beban utang yang masih tinggi.@
Bs/fd/timEGINDO.com