Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026). Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen ekonomi domestik yang masih membayangi pasar.
Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah tercatat melemah sekitar 0,71% ke level Rp17.966 per dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat ke posisi 99,30. Penguatan dolar terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Ketegangan yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat, terutama di kawasan sekitar Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global. Jalur pelayaran tersebut memiliki peran penting dalam distribusi minyak dunia sehingga setiap peningkatan konflik berpotensi memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan mendorong penguatan dolar AS.
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati data inflasi Indonesia yang pada Mei 2026 tercatat naik 0,28% secara bulanan. Kenaikan inflasi tersebut menunjukkan tekanan harga yang masih perlu diwaspadai dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen terhadap rupiah.
Meski demikian, Indonesia masih mencatat kinerja perdagangan yang positif. Neraca perdagangan April 2026 membukukan surplus sebesar US$89,1 juta, sekaligus memperpanjang tren surplus selama 72 bulan berturut-turut. Namun, nilai surplus yang menyusut dibanding periode sebelumnya memunculkan kekhawatiran mengenai daya tahan sektor eksternal di tengah perlambatan ekonomi global.
Sejumlah media internasional seperti Bloomberg dan Reuters juga menyoroti meningkatnya volatilitas pasar akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. (Sn)