Rupiah Kian Tertekan, Mendekati Rp18.000 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global

rupiah
Rupiah terhadap dolar AS

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dan ditutup di kisaran Rp17.917 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut membuat mata uang Garuda semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang menjadi perhatian pelaku pasar dan dunia usaha.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa inflasi di AS akan tetap tinggi sehingga peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi semakin terbatas.

Kenaikan harga energi global juga meningkatkan permintaan dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan yang lebih besar di pasar keuangan internasional. Sejumlah analis menilai ketidakpastian di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang dunia dalam beberapa pekan terakhir.

Sementara itu, dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing yang tinggi turut memperberat tekanan terhadap rupiah. Permintaan dolar meningkat untuk membiayai impor energi, pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing, serta pelunasan kewajiban utang luar negeri. Selain itu, meningkatnya minat masyarakat dan pelaku usaha untuk menyimpan aset dalam mata uang asing juga memperbesar kebutuhan dolar di pasar domestik.

Media ekonomi nasional juga menyoroti bahwa lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar beban impor Indonesia yang masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. Kondisi tersebut dapat memperlebar permintaan dolar dan berimbas pada stabilitas nilai tukar rupiah apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Meski demikian, sejumlah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia, termasuk penguatan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE), diharapkan mampu membantu menjaga pasokan valuta asing di dalam negeri dan meredam volatilitas rupiah. Namun dalam jangka pendek, arah pergerakan rupiah masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global, harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga The Fed.

Pelaku pasar kini menantikan perkembangan terbaru dari negosiasi terkait konflik Timur Tengah dan sinyal kebijakan moneter AS. Jika ketegangan global terus meningkat dan harga energi tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. (Sn)

Scroll to Top