Jakarta|EGINDO.co Melandainya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian memberikan tekanan hebat pada sektor pangan nasional. Kali ini, giliran industri persusuan dan peternakan sapi perah domestik yang harus memutar otak akibat melonjaknya biaya operasional dan bahan baku yang bersumber dari luar negeri.
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun oleh Bloomberg, mata uang garuda dibuka melemah cukup tajam pada pagi ini, Selasa (2/6/2026), ke level Rp 17.885 per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan penurunan sekitar 80,5 poin jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Impor Sapi Perah Kementan Tersendat
Kementerian Pertanian (Kementan) melansir bahwa depresiasi rupiah ini berdampak langsung pada rencana strategis pemerintah dalam mendongkrak populasi sapi perah nasional. Melemahnya kurs membuat harga beli sapi perah impor—yang selama ini diandalkan untuk program penambahan populasi—menjadi jauh lebih mahal. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperlambat akselerasi swasembada susu yang sedang digalakkan pemerintah.
Ketergantungan Bahan Baku Capai 80 Persen
Di sisi hilir, para pelaku industri pengolahan susu pasrah menghadapi kenyataan pahit ini. Laporan dari CNBC Indonesia menyebutkan bahwa struktur manufaktur susu nasional memang sangat rentan terhadap fluktuasi mata uang asing. Hal ini dikonfirmasi oleh pihak industri yang mengakui bahwa sekitar 80 persen dari total kebutuhan bahan baku susu nasional masih harus dipasok melalui jalur impor.
Ketika dolar AS perkasa, maka otomatis biaya produksi semenjak dari ruang pabrik akan membengkak signifikan.
Strategi Produsen: Efisiensi dan Serap Susu Lokal
Guna menyiasati badai ekonomi ini agar tidak langsung menghantam daya beli masyarakat, para produsen susu nasional mulai menerapkan langkah-langkah mitigasi:
-
Mengetatkan Efisiensi Internal: Mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak mendesak di lini manufaktur maupun distribusi.
-
Menggenjot Penyerapan Susu Lokal: Produsen kini mulai beralih dan meningkatkan volume pembelian susu segar dari para peternak rakyat di dalam negeri.
“Langkah memaksimalkan penyerapan susu lokal ini menjadi opsi paling rasional saat ini. Selain bisa menekan ketergantungan pada bahan baku impor yang mahal, strategi ini diharapkan mampu menjaga harga produk susu di tingkat konsumen agar tetap terjangkau,” tulis analisis ekonomi bisnis.com dalam ulasannya terkait ketahanan pangan hari ini.
Hingga berita ini diturunkan, pelaku industri berharap ada intervensi dan kebijakan taktis dari bank sentral maupun pemerintah untuk menstabilkan kurs rupiah, demi mencegah terjadinya inflasi harga pangan olahan yang lebih luas. (Sn)