Jakarta | EGINDO.com – Dampak terjadinya pemadaman listrik dalam skala luas atau blackout di sebagian wilayah Sumatera membuat biaya operasional pusat perbelanjaan melonjak tajam. Kondisi itu sangat memukul dunia usaha pada sektor ritel dan bisnis pusat perbelanjaan dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) yang terkena blackout.
Hal itu dikatakan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja tentang terjadinya pemadaman listrik lebih dari 24 jam. “Gangguan pasokan listrik PLN memaksa pusat perbelanjaan untuk menggunakan pasokan listrik cadangan dari generator set (genset). Hal ini mengakibatkan biaya operasional melonjak signifikan dan sektor ritel dan bisnis pusat perbelanjaan dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) menjadi bagian yang paling terpukul,” katanya.
Alphonzus memberikan gambaran, pada umumnya biaya listrik genset lebih mahal sekitar 200% dibandingkan biaya listrik PLN. Beban pengusaha semakin bertambah lantaran saat ini harga solar non-subsidi sebagai bahan bakar genset telah mengalami kenaikan sekitar seratus persen.
Akibatnya, biaya listrik genset telah melonjak signifikan menjadi sekitar 400 sampai 500 persen dibandingkan biaya listrik PLN. Secara keseluruhan, Alphonzus mengestimasikan penggunaan genset akibat terganggunya pasokan listrik PLN berpotensi membuat biaya operasional pusat perbelanjaan melonjak sekitar 35%.
Menurutnya tambahan beban biaya operasional tersebut semakin menekan kinerja sektor ritel karena pada saat ini industri usaha ritel sedang berada pada periode low season. Selain menambah beban operasional, secara bersamaan, blackout listrik juga menimbulkan potensi pendapatan yang hilang bagi pelaku usaha.
Diperkirakannya akibat gangguan pasokan listrik PLN tersebut memangkas sekitar 10 persen potensi pendapatan pengusaha pusat perbelanjaan. Dijelaskannya gangguan pasokan listrik PLN tentu sangat berdampak terhadap pusat perbelanjaan. Selain mengganggu kenyamanan pengunjung serta berdampak terhadap penjualan toko-toko, listrik merupakan faktor utama yang sangat signifikan dalam operasional pusat perbelanjaan.
Sementara itu EGINDO.com yang menghubungi beberapa peritel dan pelaku usaha di Kota Medan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang menyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia mengatakan mempergunakan backup genset tidak dapat bertahan lama, hanya bertahan dalam beberapa jam saja.
Banyak pelau usaha mengakui ketika terjadi blackout di Sumatera Utara telah memukul para pelaku usaha ritel dan penyewa pusat perbelanjaan. Hanya sedikit segmen usaha yang dapat bertahan dan bisa meraup peningkatan omzet sebab pengunjung sepi. “Penjualan enurut tajam ketika pemadaman listrik itu bang, sepi pengunjung, sepi pembeli,” kata Halim Chandra Zhang kepada EGINDO.com kemarin di Medan.
Diakuinya, banyak para pelaku usaha menutup usahanya dimana ketika pemadaman listrik itu terjadi penerangan menjadi sangat kurang dari biasanya, sehingga keamanan dan kenyamanan menjadi kurang. “Kota Medan saja seperti ‘kota mati’ malam itu, gelap dan sepi membuat pelaku usaha memilih untuk menutup usahanya,” kata Halim menegaskan.
Diakuinya jadi adanya blackout dari listrik PLN itu sangat merugikan dunia usaha apa saja mulai dari restoran, shopping mall, toko dan UMKM tidak dapat beraktivitas maksimal dan jelas kerugian besar pada sektor ritel. Blackout listrik PLN sangat memukul para pelaku UMKM, potensi pendapatan yang hilang dan kerugian yang diperoleh.@
Fd/timEGINDO.com