Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (26/5/2026), dengan pergerakan di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal domestik dan arah kebijakan ekspor komoditas strategis pemerintah.
Berdasarkan data pasar, rupiah sebelumnya ditutup melemah ke level Rp17.744 per dolar AS pada perdagangan Senin (25/5/2026). Kondisi ini terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) justru mengalami penurunan, yang menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor internal dibanding sentimen global.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai defisit anggaran fiskal yang melebar menjadi salah satu faktor utama yang membebani persepsi investor terhadap aset domestik. Selain itu, pasar juga mencermati rencana pemerintah terkait penerapan kebijakan ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis, termasuk produk turunan nikel.
Kebijakan tersebut dinilai menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan kepastian ekspor nasional. Sentimen itu turut menekan pergerakan rupiah di tengah tingginya kebutuhan dolar AS untuk aktivitas impor dan pembayaran utang luar negeri.
Di sisi lain, optimisme global terkait peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran sebenarnya sempat menurunkan harga minyak dunia dan melemahkan dolar AS. Namun sentimen positif tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat nilai tukar rupiah.
Sejumlah mata uang Asia seperti dolar Singapura, won Korea Selatan, hingga ringgit Malaysia tercatat mampu menguat terhadap dolar AS. Sementara rupiah justru bergerak sebaliknya dan masih berada di zona merah.
Media ekonomi nasional juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi domestik akibat kombinasi tekanan fiskal, pelemahan kurs, dan tingginya ketergantungan terhadap ekspor komoditas mentah. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah, terutama melalui penguatan cadangan devisa, pengendalian defisit fiskal, serta kepastian implementasi kebijakan perdagangan nasional. (Sn)