Mata Uang Garuda Masih Tertekan Volatilitas Global, Upaya Stabilisasi BI Mulai Jaga Pasar SBN

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih tertahan dalam zona fluktuatif pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026). Sempat mencatatkan penguatan di awal sesi ke posisi Rp17.703 per dolar AS, mata uang domestik justru berbalik melemah tipis 0,03 persen ke level Rp17.722 per dolar AS pada pukul 09.40 WIB.

Koreksi ini memperpanjang tren negatif rupiah yang telah merosot sekitar 2,1 persen sepanjang bulan Mei 2026. Data dari Bloomberg menunjukkan indeks dolar AS (DXY) masih kokoh bertengger di area 99, yang terus memicu tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.

Melansir laporan Reuters, pergerakan aset negara berkembang termasuk rupiah saat ini sangat bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah. Pelaku pasar tengah menakar prospek rekonsiliasi antara AS dan Iran. Harapan sempat membubung setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi bilateral berjalan “konstruktif”, yang seketika menekan harga minyak mentah global. Namun, optimisme tersebut membentur tembok setelah Teheran mengeluarkan rilis kontra-pernyataan, khususnya mengenai kendali operasional di Selat Hormuz.

Analis pasar uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai situasi Timur Tengah ini bak pisau bermata dua. “Harapan perdamaian di Timur Tengah sebenarnya menjadi katalis positif bagi rupiah. Kami memproyeksikan pergerakan kurs hari ini akan tertahan di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS,” ungkapnya.

Resiliensi Pasar Obligasi di Tengah Intervensi BI

Meskipun tekanan eksternal masih mendominasi, langkah intervensi agresif yang ditekuni Bank Indonesia (BI) di pasar valas dan domestik mulai membuahkan hasil, terutama pada pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Berdasarkan data sekunder yang dihimpun CNBC Indonesia, tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB) tenor 10 tahun merosot landai ke angka 6,74 persen. Penurunan yield ini mengindikasikan adanya kembali aksi beli dari para investor yang memanfaatkan momentum koreksi harga.

Meskipun demikian, selisih (spread) antara INDOGB dengan obligasi pemerintah AS (US Treasury) terpantau masih cukup lebar, yakni sebesar:

  • Tenor 10 Tahun: 218,7 basis poin (bps)

  • Tenor 2 Tahun: 260,3 basis poin (bps)

Analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menggarisbawahi bahwa tingginya spread ini menjadi sinyal positif di tengah gempuran ketidakpastian global. Menurutnya, kesenjangan imbal hasil yang lebar tersebut, didukung langkah taktis BI dan pemerintah, sangat krusial dalam menjaga daya pikat portofolio investasi dalam negeri. “Upaya berlapis ini terbukti mampu meredam kepanikan dan menstabilkan sentimen psikologis pasar keuangan domestik,” pungkas Jessica. (Sn)

Scroll to Top