Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin (25/5/2026), berada di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), rupiah tercatat melemah ke level Rp17.700 per dolar AS seiring meningkatnya tekanan eksternal dan sentimen negatif di pasar keuangan domestik.
Pelemahan rupiah dipicu memburuknya defisit neraca transaksi berjalan Indonesia yang tercatat lebih besar dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap ketahanan ekonomi eksternal Indonesia dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Selain itu, sentimen risk off akibat pelemahan pasar saham domestik turut menambah tekanan terhadap mata uang Garuda.
Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor utama penguatan dolar AS. Pelaku pasar menantikan respons Iran terhadap proposal Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan dunia dalam waktu dekat.
Sejumlah media internasional seperti Reuters dan The Wall Street Journal juga melaporkan bahwa tekanan terhadap rupiah meningkat akibat defisit transaksi berjalan, arus keluar modal asing, serta tingginya harga minyak global yang memperkuat posisi dolar AS. (Sn)