Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
DALAM kearifan Batak yang telah ditempa oleh zaman, kehidupan tidak pernah dipahami sebagai perjalanan seorang diri. Manusia hidup di tengah hubungan, tumbuh dalam kebersamaan, dan dimuliakan karena kemampuannya menjaga keseimbangan dengan sesamanya. Karena itu, orang Batak sejak dahulu meletakkan satu dasar penting dalam kehidupan sosialnya: Dalihan Na Tolu—tungku penyangga kehidupan yang mengajarkan bahwa harmoni hanya lahir ketika setiap unsur saling menghormati dan mengetahui tempatnya masing-masing (sesuai ordo).
Tungku tidak akan berdiri bila satu penopangnya hilang. Api tidak akan menyala bila keseimbangannya rusak. Begitulah pula sebuah rumah bersama—baik keluarga, komunitas, maupun lembaga—tidak akan bertahan hanya karena kekuatan satu orang, melainkan karena kesediaan semua pihak untuk tetap menjaga keseimbangan.
Di dalam nilai itu, kebersamaan selalu ditopang oleh tiga hal yang sederhana namun agung: saling menghargai, saling menjaga, dan saling menempatkan diri dengan benar. Ketika ketiganya hidup, perbedaan tidak menjadi ancaman, melainkan kekuatan. Namun ketika salah satunya mulai hilang, perlahan ruang kebersamaan akan diisi oleh ego, kepentingan, dan keinginan untuk lebih menonjol daripada yang lain.
Dalam perjalanan sebuah lembaga atau komunitas, perkumpulan, keadaan seperti ini hampir selalu terjadi. Pada awalnya, semua orang datang dengan niat baik. Ada semangat untuk membangun, membantu, dan menghadirkan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi. Tetapi waktu perlahan menguji hati manusia. Mulailah muncul keinginan untuk lebih didengar, merasa paling berjasa, ingin lebih diakui, atau tanpa sadar membangun lingkar pengaruhnya sendiri. Dari sana jarak mulai tercipta—bukan karena tujuan yang berbeda, melainkan karena cara memandang diri dan orang lain mulai berubah.
Kearifan Batak sesungguhnya telah lama mengingatkan keadaan ini melalui nilai marsipagabean—saling membesarkan, dan marsihaholongan—saling mengasihi, marsiaminaminan-saling melindungi serta marsitungkoltungkolan-saling menopang. Sebuah komunitas tidak akan menjadi besar karena masing-masing sibuk membesarkan dirinya sendiri, tetapi karena setiap orang rela membesarkan rumah bersama. Sebab rumah yang kuat bukanlah rumah yang bebas dari perbedaan, melainkan rumah yang penghuninya masih memiliki hati untuk saling menjaga. Karena itu, kepemimpinan dalam pandangan Batak bukanlah tentang siapa yang paling tinggi berdiri, tetapi siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan di tengah banyak kepentingan. Pemimpin bukan pusat penghormatan, melainkan pusat tanggung jawab.
Orang Batak mengenal falsafah: parhata di jolo, pangolu di tonga, parhobas di pudi—di depan memberi arah, di tengah menjaga kehidupan, dan di belakang menjadi pelayan bagi semuanya. Di situlah makna kepemimpinan yang sejati: bukan duduk untuk dilayani, tetapi berdiri untuk memikul beban yang lebih besar daripada yang lain.
Seorang pemimpin dituntut untuk tidak mudah hanyut dalam emosi, tidak menjadikan jabatan sebagai tempat membesarkan ego, dan tidak kehilangan arah di tengah riuhnya kepentingan. Ia harus mampu menenangkan sebelum keadaan membesar, merangkul sebelum perpecahan melebar, dan tetap melihat tujuan bersama ketika banyak orang mulai sibuk mempertahankan dirinya masing-masing.
Namun kearifan Batak juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak pernah berjalan sendiri. Dalam setiap rumah bersama yang sehat, selalu ada tempat mulia bagi para natua-tua-orang tua dan tokoh senior. Mereka bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan penjaga ingatan dan penuntun arah moral komunitas. Pengalaman hidup membuat mereka memahami bahwa tidak semua perbedaan harus dimenangkan, dan tidak semua pertentangan perlu diperpanjang.
Mereka telah melewati banyak musim dalam kehidupan bersama. Karena itu mereka tahu kapan harus berbicara, kapan harus menegur, kapan harus diam, dan kapan membiarkan waktu bekerja meredakan keadaan. Dalam tradisi Batak, suara orang tua dihormati bukan semata karena usia, tetapi karena habisuhon-kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang. Kehadiran mereka menjadi penyejuk ketika generasi muda mulai bergerak terlalu cepat atau terbakar oleh emosi yang sesaat.
Di sisi lain, setiap anggota dalam sebuah komunitas juga memiliki tanggung jawab moral terhadap rumah bersama yang mereka tempati. Ada adat ni parngoluan—tata cara berjalan dalam kebersamaan. Berbeda pendapat adalah hal yang wajar, bahkan diperlukan. Tetapi perbedaan tidak boleh merusak persaudaraan. Kritik boleh disampaikan, tetapi tidak dengan menghilangkan kehormatan sesama. Sebab dalam pandangan Batak yang luhur, martabat seseorang tidak hanya diukur dari keberhasilannya secara pribadi, tetapi juga dari caranya menjaga nama baik dan kehormatan komunitasnya.
Hagabeon, hamoraon, hasangapon bukan semata-mata tentang keturunan, kekayaan, atau kehormatan pribadi. Ketiganya menjadi bermakna bila bertumbuh bersama tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Ketika nilai itu mulai dilupakan, organisasi perlahan berubah menjadi ruang perebutan pengaruh. Percakapan tidak lagi lahir dari ketulusan, melainkan strategi. Kedekatan menjadi alat. Kebenaran mulai dikalahkan oleh kepentingan. Orang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada menjaga kebersamaan.
Padahal dalam kearifan Batak yang telah bertahan lintas generasi, musyawarah dan rasa hormat selalu ditempatkan lebih tinggi daripada kemenangan dalam perdebatan. Karena tujuan dari rumah bersama bukan menentukan siapa yang paling benar, melainkan memastikan rumah itu tetap berdiri dan tetap dapat dihuni oleh semua orang.
Pada akhirnya, sebuah lembaga tidak akan runtuh hanya karena perbedaan pandangan. Ia runtuh ketika manusia di dalamnya berhenti saling menghormati. Ketika ego lebih dipelihara daripada kebersamaan. Ketika keinginan untuk menang lebih besar daripada kerelaan untuk menjaga. Karena itu, menjaga rumah bersama adalah tanggung jawab seluruh unsur di dalamnya:
pemimpin yang mampu menahan ego, senior yang menuntun dengan kebijaksanaan, dan anggota yang menjaga adab dalam kebersamaan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan, sebagaimana Dalihan Na Tolu mengajarkan bahwa keseimbangan adalah fondasi kehidupan.
Rumah bersama akan tetap menjadi milik kita bukan karena kekuasaan seseorang, melainkan karena kesediaan semua pihak untuk tetap tinggal di dalam nilai yang sama: menjaga, menghormati, dan tidak membiarkan ego lebih tinggi daripada persaudaraan. Sebab dalam kearifan Batak yang agung, yang benar-benar besar bukanlah yang paling tinggi berdiri, melainkan yang paling mampu menjaga keseimbangan agar semua tetap dapat hidup berdampingan.
Dan selama nilai itu masih dijaga, selama rasa hormat belum hilang, selama hati masih mau saling merangkul, rumah bersama itu akan tetap hidup. Tetap berdiri. Dan tetap menjadi kita.
***
Penulis adalah Penggiat Lingkungan Basis Geopark dan mantan Bupati Samosir