Rupiah Tertekan ke Rp17.701 per Dolar AS, Eksportir Diuntungkan di Tengah Lonjakan Biaya Energi

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Hingga pukul 12.40 WIB, mata uang Garuda tercatat menyentuh level Rp17.701 per dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren pelemahan yang dipicu penguatan dolar AS global dan kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut memunculkan dampak yang berbeda bagi pelaku usaha. Di satu sisi, eksportir memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Pelemahan rupiah membuat harga barang ekspor dalam denominasi dolar AS menjadi relatif lebih murah sehingga berpotensi meningkatkan permintaan dari luar negeri.

Sektor-sektor berbasis ekspor seperti kelapa sawit, batu bara, tekstil, hingga produk manufaktur dinilai berpeluang menikmati tambahan margin keuntungan dari selisih kurs. Pendapatan eksportir yang diterima dalam dolar AS juga meningkat ketika dikonversi ke rupiah.

Namun di sisi lain, depresiasi rupiah turut menambah tekanan terhadap biaya impor bahan baku dan energi. Lonjakan harga minyak mentah dunia mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang pada akhirnya meningkatkan biaya distribusi dan logistik nasional.

Kenaikan ongkos transportasi diperkirakan akan berdampak pada rantai pasok industri dan harga barang di tingkat konsumen. Pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan biaya produksi yang lebih tinggi akibat kurs rupiah yang melemah.

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk ketegangan geopolitik global serta tingginya harga minyak yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut juga mempersempit ruang fiskal pemerintah karena beban subsidi energi berpotensi meningkat.

Media internasional Reuters melaporkan pelemahan rupiah terjadi di tengah intervensi pasar oleh Bank Indonesia dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global. Sementara itu, laporan ANTARA News menyebut kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir. (Sn)

Scroll to Top