Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Mata uang Garuda diproyeksikan berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS setelah sehari sebelumnya ditutup turun 0,22% ke level Rp17.700 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring pelemahan mayoritas mata uang Asia, seperti yen Jepang, won Korea Selatan, yuan China, hingga dolar Singapura. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian global serta arus modal asing yang masih keluar dari pasar domestik.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen negatif di pasar saham dan obligasi Indonesia masih membatasi peluang penguatan rupiah. Menurutnya, perhatian investor kini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diumumkan hari ini. Bank sentral diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin guna menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam tekanan di pasar keuangan.
Sejumlah media internasional seperti reuters.com dan businesstimes.com. juga melaporkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik global, harga minyak dunia yang tinggi, serta menurunnya kepercayaan investor terhadap aset emerging market.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tekanan di pasar obligasi pemerintah masih dalam kondisi terkendali. Pemerintah sebelumnya menyiapkan dana buyback Surat Berharga Negara (SBN) hingga Rp2 triliun per hari, namun realisasi penyerapannya hanya sekitar Rp600 miliar karena tekanan jual dinilai tidak terlalu besar.
Meski demikian, data Kementerian Keuangan menunjukkan arus modal asing keluar dari pasar SBN sejak awal tahun hingga 24 April 2026 telah mencapai Rp20 triliun. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus membebani pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir. (Sn)