Ketika “Engkau” Membentuk “Kita”: Au Do Ho, Ho Do Au: Etika Kita

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

DALAM kehidupan modern, relasi antarmanusia semakin mudah direduksi menjadi urusan fungsi, kepentingan, dan pertukaran. Orang lain hadir sejauh ia berguna, atau sejauh ia mengancam. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan klasik tentang dasar hidup bersama kembali menjadi relevan: apakah manusia pada dasarnya hidup dari ketakutan, dari kewajiban moral, atau dari perjumpaan?

Thomas Hobbes memberi jawaban yang tegas. Ia melihat manusia dalam kondisi dasarnya sebagai makhluk yang rentan jatuh dalam konflik. Dalam keadaan tanpa tatanan yang kuat, relasi manusia cenderung berubah menjadi “perang semua melawan semua”. Karena itu, menurut Hobbes, kehidupan bersama hanya mungkin jika ada kekuasaan yang mampu menahan ketakutan kolektif dan mengubahnya menjadi keteraturan. Relasi sosial, dengan demikian, pada dasarnya adalah strategi bertahan hidup.

Immanuel Kant menggeser dasar tersebut. Bagi Kant, manusia tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai alat untuk tujuan lain. Ia harus selalu dihormati sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Etika tidak lagi berdiri di atas rasa takut, melainkan pada kewajiban rasional untuk mengakui martabat manusia. Namun, masih tersisa satu pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana prinsip itu sungguh menjadi pengalaman hidup, bukan sekadar rumusan moral?

Martin Buber menjawabnya dengan menggeser perhatian dari prinsip ke relasi. Ia membedakan dua cara manusia berelasi: “aku–itu” dan “aku–engkau”. Dalam relasi “aku–itu”, orang lain direduksi menjadi objek, fungsi, atau ancaman. Dalam relasi “aku–engkau”, orang lain hadir sebagai pribadi yang utuh dan tak tergantikan. Etika, dalam pengertian ini, bukan pertama-tama aturan, tetapi cara hadir.

Jika Hobbes menekankan kontrol terhadap ketakutan, dan Kant menegaskan penghormatan terhadap martabat, maka Buber menunjukkan bahwa keduanya hanya menjadi hidup ketika manusia sungguh mampu berjumpa.

Ketiga pemikiran ini dapat dibaca sebagai tiga lapisan etika modern: Hobbes mengingatkan realitas konflik, Kant menegaskan prinsip martabat, dan Buber menghidupkan dimensi perjumpaan yang konkret.

Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaannya menjadi sangat sederhana sekaligus menentukan: apakah kita melihat orang lain sebagai ancaman, sebagai kewajiban moral, atau sebagai kehadiran yang tak tergantikan? Namun, ada pengalaman manusia yang sering melampaui ketiganya: pengalaman ketika seseorang menyadari bahwa ia tidak berjalan sendirian. Bahwa dalam keterbatasan dan kerapuhannya, ia tetap disertai. Pengalaman ini tidak hanya menenangkan secara psikologis, tetapi mengubah cara manusia memandang dunia.

Ketika pengalaman “disertai” itu hadir, yang lain tidak lagi pertama-tama tampil sebagai ancaman (Hobbes), atau sekadar objek kewajiban moral (Kant), melainkan sebagai sesama yang juga berada dalam perjalanan yang rapuh. Dengan demikian, relasi manusia bergerak dari ketakutan, menuju kewajiban, dan akhirnya menuju perjumpaan.

Ungkapan puitis “Saya adalah Kamu, Kamu adalah Saya — Au Do Ho, Ho Do Au” dapat dibaca dalam horizon ini. Ia tidak menunjuk pada peleburan identitas, melainkan pada kesadaran bahwa diri manusia selalu terbentuk dalam relasi. Tidak ada “aku” yang sepenuhnya otonom tanpa “engkau” yang menyertainya dalam berbagai bentuk kehidupan. “Kita” dengan demikian bukan semata produk kontrak sosial seperti dalam Hobbes, bukan hanya penerapan kewajiban moral seperti dalam Kant, dan bukan pula sekadar intensitas perjumpaan seperti dalam Buber. “Kita” lahir dari pertemuan ketiganya dalam satu kenyataan dasar: manusia itu rapuh, bermartabat, dan selalu berada dalam relasi.

Dalam masyarakat yang mudah terfragmentasi, ketiganya tetap relevan sekaligus saling melengkapi. Hobbes mengingatkan pentingnya stabilitas, Kant menjaga martabat manusia agar tidak direduksi, dan Buber menjaga agar relasi tidak kehilangan kedalaman kemanusiaannya. Namun yang menentukan bukan hanya keberadaan ketiga gagasan itu, melainkan apakah cara kita memandang sesama sungguh dibentuk olehnya: bukan sekadar sebagai ancaman yang harus dikendalikan, bukan sekadar kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi sebagai “engkau” yang hadir dan tidak tergantikan.

Di titik itu, etika tidak lagi hanya menjadi sistem, melainkan cara hidup. Dari cara hidup itulah “aku” dan “kamu” tidak lagi berdiri berhadapan, melainkan dipulihkan dalam ruang yang sama: ruang di mana manusia sungguh menjadi manusia bersama yang lain.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya hidup dari kemampuan mengatur diri, melainkan dari kesediaan untuk dituntun dan disertai dalam seluruh perjalanan hidupnya. Ada saat ketika manusia berjalan melewati lembah ketidakpastian, kehilangan, persaingan, dan keterasingan, namun tetap menemukan keberanian untuk melanjutkan langkah karena ia percaya bahwa hidup ini tidak dibiarkan kosong dari penyertaan.

Dari pengalaman itulah lahir kerendahan hati untuk memandang sesama bukan sebagai lawan, melainkan sebagai sesama peziarah kehidupan. Yang kuat belajar menjaga, yang lemah tidak ditinggalkan, dan setiap orang menemukan tempatnya dalam persekutuan (parsadaan) yang saling menopang. Kehadiran menjadi lebih penting daripada dominasi; kesetiaan lebih bermakna daripada sekadar keberhasilan.

Barangkali di situlah inti terdalam dari “Au Do Ho, Ho Do Au.” Bahwa manusia hanya sungguh menjadi dirinya ketika ia hidup dalam pengakuan akan kehadiran yang menuntun, memelihara, dan memulihkan. Dari sana lahir keberanian untuk berkata kepada sesama: engkau bukan orang asing bagiku.

Dan ketika kesadaran itu hidup, “kita” tidak lagi sekadar istilah sosial, melainkan rumah bersama tempat manusia saling mengenal, saling menjaga, dan saling menguatkan di tengah perjalanan hidup yang panjang. Saya adalah Kamu, Kamu adalah Saya. Au Do Ho, Ho Do Au. Dan dalam perjumpaan itu, “kita” menjadi mungkin.@

***

Penulis adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Penanaman Modal Kabupaten Toba Samosir (2021–2023)

Scroll to Top