Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Pelemahan mata uang nasional tersebut dinilai dapat memicu efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga aktivitas industri.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 11.29 WIB, kurs rupiah berada di level Rp17.727 per dolar AS. Posisi itu melemah dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang tercatat di angka Rp17.668 per dolar AS. Sementara pada pembukaan pasar pagi hari, rupiah sempat diperdagangkan di kisaran Rp17.679 per dolar AS.
Sejumlah ekonom menilai depresiasi rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor. Kondisi ini diperkirakan akan berdampak langsung terhadap komoditas strategis seperti bahan bakar minyak (BBM), LPG, pupuk, hingga berbagai kebutuhan pangan yang dikonsumsi masyarakat di perkotaan maupun pedesaan.
Tekanan kurs juga dikhawatirkan membebani sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi akibat mahalnya impor dinilai dapat mengurangi kapasitas produksi perusahaan. Jika situasi berlangsung dalam waktu lama, pelaku usaha disebut berpotensi melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di sektor pertanian, para petani mulai merasakan dampak pelemahan rupiah melalui meningkatnya harga pestisida dan perlengkapan pertanian lain yang sebagian besar masih mengandalkan bahan impor. Kondisi tersebut dinilai dapat menambah biaya tanam dan berpengaruh terhadap produktivitas pertanian nasional.
Selain sektor riil, industri keuangan syariah juga disebut memiliki kerentanan terhadap tekanan nilai tukar. Pelemahan rupiah dinilai dapat memengaruhi stabilitas pembiayaan dan meningkatkan risiko terhadap sektor perbankan, terutama yang memiliki keterkaitan dengan transaksi berbasis valuta asing.
Pengamat ekonomi mengingatkan pemerintah dan otoritas moneter untuk terus menjaga stabilitas pasar keuangan serta memperkuat langkah mitigasi agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam dan berdampak luas terhadap daya beli masyarakat. (Sn)