Tokoh Politik Sambangi BEI Saat IHSG Melemah, Investor Diminta Tetap Rasional

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, SH., MH.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, SH., MH.

Jakarta|EGINDO.co Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, SH., MH. bersama sejumlah tokoh nasional melakukan kunjungan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (19/5/2026), di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik.

Kunjungan berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB ketika pergerakan IHSG masih berada di zona merah. Berdasarkan data perdagangan pagi, IHSG tercatat melemah 0,35 persen ke level 6.576,07. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 261 saham menguat, 197 saham terkoreksi, sementara 501 lainnya stagnan.

Tekanan terhadap pasar modal Indonesia dinilai tidak terlepas dari sentimen global yang masih membayangi pelaku pasar. Kekhawatiran investor terhadap arah suku bunga global, ketidakpastian geopolitik, hingga arus keluar dana asing menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan indeks dalam beberapa hari terakhir.

Nilai transaksi di pasar reguler tercatat mencapai Rp20,70 triliun dengan kapitalisasi pasar mengalami penyusutan seiring koreksi indeks. Kondisi tersebut mencerminkan sikap wait and see investor terhadap perkembangan ekonomi global maupun domestik.

Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, meminta pelaku pasar agar tidak bereaksi berlebihan terhadap volatilitas jangka pendek. Menurutnya, fluktuasi pasar merupakan bagian normal dari dinamika investasi, terutama ketika pasar sedang dipengaruhi sentimen eksternal.

Ia menekankan pentingnya investor tetap berpegang pada analisis fundamental emiten dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing. Jeffrey juga mengingatkan agar investor tidak mudah terpengaruh rumor maupun sentimen sesaat yang berpotensi memicu keputusan investasi emosional.

Sejumlah media internasional seperti Bloomberg L.P. dan Reuters sebelumnya juga menyoroti meningkatnya tekanan di pasar saham kawasan Asia, termasuk Indonesia, akibat ketidakpastian ekonomi global dan pergerakan pasar keuangan internasional.

Meski demikian, sejumlah analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid ditopang inflasi yang terkendali, pertumbuhan konsumsi domestik, serta stabilitas sektor perbankan nasional. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi penopang pasar modal dalam jangka menengah hingga panjang. (Sn)

Scroll to Top