Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada awal perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Bursa saham Indonesia dibuka melemah lebih dari 3% di tengah derasnya aksi jual investor asing setelah lembaga indeks global MSCI melakukan penyesuaian komposisi indeks atau rebalancing untuk periode Mei 2026.
Sentimen negatif tersebut muncul setelah MSCI resmi mengeluarkan 18 saham Indonesia dari sejumlah indeks global mereka. Kebijakan itu efektif berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi arus keluar dana asing dalam jumlah besar.
Tekanan jual paling besar terjadi pada sejumlah saham yang sebelumnya memiliki bobot signifikan dalam indeks MSCI, seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Selain kedua saham tersebut, emiten lain yang turut dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Berdasarkan laporan Reuters, keputusan MSCI didorong oleh kekhawatiran terhadap transparansi pasar, tingkat free float yang rendah, serta konsentrasi kepemilikan saham pada sejumlah emiten besar Indonesia. MSCI juga sebelumnya sempat memberi sinyal evaluasi terhadap status Indonesia di indeks emerging market.
Selain tekanan dari faktor domestik, pasar saham Indonesia juga dibayangi sentimen eksternal. Ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih memicu penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketegangan geopolitik global turut memperburuk minat investor terhadap aset berisiko di kawasan Asia.
Financial Times melaporkan bahwa langkah MSCI berpotensi mengurangi bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index dari sekitar 0,8% menjadi kisaran 0,5%-0,6%. Kondisi tersebut diperkirakan dapat memicu potensi arus keluar dana pasif global hingga miliaran dolar AS dari pasar modal domestik.
Di sisi lain, sejumlah pelaku pasar menilai tekanan terhadap IHSG saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan rebalancing jangka pendek. Beberapa analis memandang volatilitas masih berpotensi berlanjut hingga implementasi penuh perubahan indeks MSCI pada akhir Mei mendatang.
Meski demikian, investor tetap diminta mencermati fundamental emiten dan arah kebijakan regulator pasar modal Indonesia. Pemerintah dan Bursa Efek Indonesia sebelumnya telah menyiapkan sejumlah langkah reformasi, termasuk peningkatan aturan keterbukaan kepemilikan saham dan penyesuaian ketentuan free float untuk menjaga kredibilitas pasar domestik di mata investor global. (Sn)