Pemimpin Namarsangap Dohot Namarsahala Raja

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang

PEMIMPIN Terhormat dan Berwibawa Menurut Filsafat Kehidupan Batak. “Pakhophopon dohot hapolinon do tudu-tudu ni habanggalon sadasada bangso.” Perjuangan dan kemurnian hati adalah tanda kebesaran suatu bangsa.

Dalam filsafat kehidupan Batak, kehormatan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh harta, jabatan, atau kekuasaan, melainkan oleh kemampuan menjaga persatuan, martabat, dan keseimbangan hidup bersama. Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang dihormati karena keteladanan, bukan karena ditakuti.

Seorang Namarsangap dohot Namarsahala Raja harus mampu menjadi: pemersatu, bukan pemecah, pelayan, bukan penguasa, penuntun, bukan penekan, dan teladan dalam kerendahan hati, keadilan, serta kasih persaudaraan.

Kearifan Batak mengajarkan: “Tampulon aek do na mardomu, alai holong do na marsihohot” Air dapat berkumpul karena tempatnya, tetapi kasihlah yang mempersatukan hati. Karena itu, persatuan (parsadaan) tidak akan lahir dari kekuasaan atau kekayaan, melainkan dari sikap saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguatkan sebagai sesama saudara.

Prinsip:

“Somba marhulahula, manat mardongan tubu, elek marboru” menjadi dasar keseimbangan hidup dalam masyarakat Batak: menghormati, berhati-hati menjaga persaudaraan, dan merangkul sesama dengan kasih serta kebijaksanaan.

Pemimpin yang menonjolkan diri, merasa paling berkuasa, atau ingin menguasai orang lain pada akhirnya akan melahirkan jarak dan perpecahan. Sebaliknya, pemimpin yang rendah hati dan mengutamakan kepentingan bersama akan melahirkan kepercayaan, persatuan, dan kehormatan yang bertahan lama.

Sebab kebesaran suatu parsadaan tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh seberapa kokoh persaudaraan tetap dijaga di tengah perbedaan dan perubahan zaman.

Dengan demikian, pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang mampu menjaga hati, menjaga persatuan, dan menjaga martabat seluruh pomparan sebagai satu keluarga besar.@

***

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)

Scroll to Top