SBY Soroti Tekanan Ekonomi dan Rupiah Melemah, Serukan Persatuan Dukung Pemerintah Prabowo

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono

Jakarta|EGINDO.co Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti kondisi perekonomian nasional yang tengah menghadapi tekanan di tengah pelemahan pasar keuangan dan nilai tukar rupiah. Meski situasi dinilai belum ideal, SBY optimistis Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menghindari tekanan ekonomi yang lebih dalam.

Melalui pernyataannya di akun X pribadi, SBY menegaskan bahwa kondisi saat ini masih dapat dikendalikan selama langkah-langkah strategis segera ditempuh. Ia menilai Indonesia tetap memiliki kekuatan politik dan kapasitas ekonomi yang memadai untuk menjaga stabilitas nasional, termasuk berbagai pilihan kebijakan yang masih bisa digunakan pemerintah untuk meredam gejolak pasar.

SBY juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, ekonom, dan seluruh pemangku kepentingan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kepercayaan dan persatuan menjadi modal utama agar Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi global yang sedang berlangsung.

Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap memberikan dukungan kepada pemerintah agar berbagai upaya pemulihan dan penguatan ekonomi dapat berjalan optimal.

Di sisi lain, tekanan terhadap pasar keuangan domestik masih terlihat pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah di pasar spot sempat mendekati level Rp17.500 per dollar AS setelah dibuka di posisi Rp17.479 per dollar AS, melemah dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dollar AS. Pelemahan tersebut terjadi seiring tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia di tengah penguatan dollar AS.

Kondisi pasar saham juga mengalami koreksi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 46,72 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,90. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dengan volume transaksi mencapai lebih dari 31 miliar lembar saham.

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah dan pasar modal masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama penguatan dollar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor global. Media ekonomi Bloomberg turut melaporkan bahwa mata uang negara berkembang di kawasan Asia mengalami tekanan akibat meningkatnya permintaan aset safe haven berbasis dollar AS. (Sn)

Scroll to Top