Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar Rupiah mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa pagi (12/5/2026). Mata uang Garuda dilaporkan anjlok hingga menembus level Rp17.508 per dolar AS. Pelemahan tajam ini merupakan dampak langsung dari melambungnya harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Beban Fiskal dan Ketahanan Eksternal
Ekonom senior, Ferry Latuhihin, menilai bahwa lonjakan harga energi global menjadi beban berat bagi postur fiskal pemerintah. Menurutnya, kenaikan biaya impor energi secara otomatis memperlemah ketahanan eksternal Indonesia. Meski secara data domestik ekonomi RI tercatat tumbuh solid di angka 5,61%, angka tersebut rupanya belum cukup kuat untuk memupuk kepercayaan pasar.
“Pasar cenderung mengabaikan data pertumbuhan domestik karena fokus pada risiko eksternal. Jika tekanan ini berlanjut, ada risiko nyata Rupiah bisa terdepresiasi lebih dalam menuju level psikologis Rp25.000 per dolar AS,” ungkap Ferry.
Analisis Global: Sentimen Dolar dan Dampak Komoditas
Situasi ini sejalan dengan analisis dari Bloomberg Markets yang menyoroti bahwa mata uang negara berkembang (emerging markets) tengah menghadapi “badai sempurna”. Penguatan indeks dolar (DXY) yang didorong oleh ketidakpastian global memaksa investor menarik modal dari pasar Asia untuk mencari aset aman (safe haven).
Kondisi ini diperparah dengan catatan dari International Monetary Fund (IMF). Dalam proyeksi terbarunya, IMF memperingatkan bahwa negara dengan ketergantungan impor energi yang tinggi akan sangat rentan terhadap volatilitas nilai tukar saat terjadi guncangan harga komoditas. Indonesia, sebagai importir minyak neto, kini berada dalam posisi yang menantang untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Dinamika Pasar Selasa Pagi
Meskipun pada awal pembukaan perdagangan Selasa pagi Rupiah sempat menunjukkan perlawanan di level Rp15.500 per dolar AS, arus jual yang masif serta sentimen negatif dari Timur Tengah dengan cepat menyeret nilai tukar ke posisi Rp17.508.
Pemerintah dan Bank Indonesia kini diharapkan segera mengambil langkah intervensi taktis guna meredam volatilitas yang liar ini, mengingat pelemahan nilai tukar yang terlalu dalam berisiko memicu inflasi impor (imported inflation) yang dapat mengganggu daya beli masyarakat di tengah tren pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya sedang positif. (Sn)