Jakarta|EGINDO.co Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan besar menjelang pengumuman indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Selasa (12/5/2026). Di tengah derasnya arus dana asing keluar dari bursa domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) kompak memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang pasar keuangan Tanah Air.
Data perdagangan hingga Jumat (8/5/2026) menunjukkan investor asing masih mencatat aksi jual bersih atau net sell mencapai Rp37,61 triliun. Kondisi tersebut turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah terkoreksi lebih dari dua digit sejak awal tahun.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan regulator telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi volatilitas pasar setelah pengumuman MSCI. Menurutnya, reformasi pasar modal yang dijalankan saat ini memang berpotensi menimbulkan tekanan jangka pendek, namun diyakini akan memperkuat fundamental pasar dalam jangka panjang.
OJK bersama BEI terus menjalankan berbagai langkah pembenahan, mulai dari penguatan pengawasan, peningkatan transparansi, hingga perbaikan tata kelola emiten. Regulator juga mendorong pendalaman pasar melalui peningkatan peran investor institusi domestik agar pasar modal Indonesia tidak terlalu bergantung pada aliran dana asing.
Sejumlah media internasional seperti Reuters dan Bloomberg juga menyoroti meningkatnya perhatian investor global terhadap transparansi dan kualitas tata kelola pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyebut reformasi yang dilakukan BEI saat ini telah mengadopsi praktik terbaik global. Salah satunya melalui keterbukaan data kepemilikan saham dan pengawasan terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
BEI bahkan telah mengeluarkan sembilan saham dari indeks utama seperti IDX80, IDX30, dan LQ45 sebagai bagian dari penyesuaian kebijakan tersebut. Langkah ini dilakukan agar struktur pasar modal Indonesia dinilai lebih sehat dan kredibel oleh investor global, termasuk MSCI.
Di sisi lain, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menilai tantangan utama pasar modal Indonesia bukan semata persoalan MSCI. Ia melihat investor global kini lebih tertarik pada negara yang mampu menghadirkan narasi pertumbuhan sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI), seperti Taiwan dan Korea Selatan.
Menurut Pandu, Indonesia masih perlu memperkuat ekosistem teknologi dan inovasi agar mampu bersaing dalam perebutan arus modal global. Meski demikian, ia optimistis reformasi yang sedang berlangsung akan membawa pasar modal Indonesia ke arah yang lebih kompetitif dan berkelas dunia.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan MSCI yang dipandang sebagai salah satu indikator penting terhadap persepsi investor global terhadap kredibilitas dan prospek pasar modal Indonesia ke depan. (Sn)