Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain: Retorika Politik Kini Menjadi Strategi Modern Pertahankan Kekuasaan

Iskandar Zulkarnain Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Sumatra Utara (USU) Medan (Foto: dok. adpiki)
Iskandar Zulkarnain Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Sumatra Utara (USU) Medan (Foto: dok. adpiki)

Medan | EGINDO.com – Retorika politik kini menjadi strategi modern dalam mempertahankan kekuasaan. Fenomena perubahan sikap dan retorika politik yang kerap muncul di ruang publik dinilai bukan sekadar dinamika biasa.

Hal itu dikatakan Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si, Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Sumatra Utara (USU) Medan Kamis pekan lalu dalam simposium Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) di Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Iskandar Zulkarnain, menyebut praktik tersebut kini berkembang menjadi strategi komunikasi yang sengaja digunakan demi menjaga legitimasi kekuasaan di tengah persaingan politik yang semakin kompleks. Dalam presentasinya yang berjudul Komunikasi Bunglon dalam Politik Modern: Kemunafikan sebagai Strategi Komunikasi dalam Mempertahankan Legitimasi Kekuasaan.

Dijelaskannya bahwa komunikasi politik memainkan peran besar dalam membangun dukungan publik melalui pembentukan narasi dan persepsi masyarakat. Komunikasi politik tidak hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga membangun legitimasi kekuasaan melalui narasi yang dapat diterima publik. Politik modern kerap memperlihatkan jarak antara retorika moral dengan tindakan politik yang nyata. Kondisi itulah yang melahirkan fenomena political hypocrisy atau kemunafikan politik.

Ditegaskan Iskandar bahwa salah satu bentuk yang paling terlihat adalah “komunikasi bunglon”, yakni strategi menyesuaikan pesan politik kepada kelompok audiens yang berbeda demi mempertahankan dukungan politik. Strategi ini muncul sebagai respons terhadap tekanan multi-kepentingan dan persaingan politik dalam sistem demokrasi modern.

Menurut Iskandar Zulkarnain, guru besar USU Medan ini yang juga aktif dalam dunia seni peran (teater) menilai dalam model konseptual yang dipaparkannya, komunikasi bunglon menghasilkan retorika moral yang adaptif dan memengaruhi cara publik menilai konsistensi seorang politisi atau penguasa. Dampaknya bisa berbeda-beda, mulai dari memperkuat legitimasi kekuasaan dan stabilitas demokrasi, hingga memunculkan sinisme politik dan kemunduran demokrasi (democratic backsliding).

Ditambahkannya bahwa praktik komunikasi bunglon sering dilakukan melalui strategic ambiguity, komunikasi digital yang ditargetkan pada kelompok tertentu, hingga perubahan retorika sesuai kepentingan politik yang sedang berkembang. Strategi ini bersifat adaptif karena politik modern menghadapi audiens yang sangat beragam.

Iskandar mengingatkan bahwa kemunafikan politik merupakan “pedang bermata dua”. Di satu sisi, strategi tersebut dapat membantu menciptakan kompromi politik, mengurangi konflik, dan menjaga kohesi sosial. Namun jika dilakukan secara berlebihan, dampaknya justru bisa merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi. Ketika publik melihat adanya inkonsistensi dan manipulasi politik secara terus-menerus, maka kepercayaan terhadap institusi demokrasi bisa menurun.@

Bs/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top