Jakarta|EGINDO.co Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Berdasarkan pemutakhiran data Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI) per Kamis, 7 Mei 2026, mata uang Garuda masih tertahan di level yang cukup dalam terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip laman resmi otoritas moneter, kurs jual USD tercatat berada di angka Rp17.492,03, sementara kurs beli dipatok pada Rp17.317,97. Angka ini merefleksikan dinamika pasar yang masih dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi yield obligasi di pasar internasional.
Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Analis melihat beberapa faktor kunci yang menjadi beban bagi Rupiah saat ini:
-
Ketegangan Global: Risiko pasokan energi internasional dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memicu permintaan terhadap aset safe haven seperti Dolar AS.
-
Yield US Treasury: Tingginya imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang berada di kisaran 4,47% membuat aliran modal cenderung kembali ke pasar negara maju (capital outflow).
-
Dinamika Domestik: Meskipun fundamental ekonomi Indonesia tergolong kuat dengan pertumbuhan PDB kuartal I-2026 mencapai 5,61%, pasar masih mengantisipasi rilis stimulus ekonomi pemerintah yang dijadwalkan pada 1 Juni mendatang.
Menyikapi kondisi ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar demi menjaga volatilitas agar tetap terkendali. Langkah intervensi terus dilakukan melalui jalur triple intervention, mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian SBN di pasar sekunder.
“Pelemahan Rupiah saat ini sejalan dengan tren mata uang regional lainnya yang juga terdampak oleh tekanan global. Kami pastikan cadangan devisa masih sangat memadai untuk melakukan stabilisasi,” ungkap perwakilan Bank Indonesia dalam keterangan resminya baru-baru ini.
Di sisi lain, para pelaku usaha mulai merasakan imbas dari kurs yang telah melampaui level psikologis Rp17.000. Sektor transportasi laut dan industri yang bergantung pada komponen impor dilaporkan mulai mengalami pembengkakan biaya operasional.
Pemerintah sendiri terus berupaya melakukan diversifikasi pendanaan, salah satunya melalui rencana penerbitan obligasi mata uang asing non-dolar (seperti Panda Bonds) untuk mengurangi ketergantungan terhadap greenback.
Tabel Ringkasan Kurs BI (7 Mei 2026)
| Mata Uang | Kurs Jual | Kurs Beli |
| USD (Dolar AS) | Rp17.492,03 | Rp17.317,97 |
Data di atas merupakan kurs transaksi Bank Indonesia yang digunakan sebagai acuan transaksi valuta asing. (Sn)