Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan pada awal Mei 2026. Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia (BI) per 4 Mei 2026, mata uang Negeri Paman Sam diperdagangkan di level Rp17.410,62 untuk kurs jual dan Rp17.237,38 untuk kurs beli.
Posisi tersebut menunjukkan dolar AS masih bertahan di kisaran tinggi seiring kuatnya sentimen global yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pelaku pasar keuangan juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang berdampak pada arus modal asing.
Kurs jual yang ditetapkan BI merupakan acuan saat masyarakat atau pelaku usaha membeli dolar AS dari perbankan. Sementara kurs beli digunakan ketika masyarakat menukarkan dolar AS ke rupiah melalui bank.
Tingginya nilai tukar dolar AS diperkirakan memberi dampak pada sejumlah sektor, terutama kegiatan impor dan biaya bahan baku industri yang masih bergantung pada produk luar negeri. Di sisi lain, kondisi ini dapat menjadi keuntungan bagi eksportir karena penerimaan devisa menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Analis pasar menilai pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global, stabilitas harga komoditas, serta kebijakan moneter Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai tukar.
Bank Indonesia sebelumnya menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar valuta asing guna menjaga kepercayaan pasar dan mempertahankan kestabilan rupiah di tengah dinamika ekonomi dunia. (Sn)