Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.326 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.243 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global. Salah satu sentimen utama datang dari keputusan Uni Emirat Arab keluar dari kelompok negara produsen minyak OPEC. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia, terutama saat kawasan Timur Tengah masih dibayangi konflik Iran.
Di sisi lain, rencana Amerika Serikat memperpanjang blokade pelabuhan Iran turut memperbesar potensi gangguan distribusi minyak global. Kondisi ini mendorong investor cenderung mencari aset aman, termasuk dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Pelaku pasar juga tengah menunggu hasil rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan Kamis dini hari WIB. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%, menandai ketiga kalinya suku bunga tidak mengalami perubahan.
Dari dalam negeri, pasar menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Ketidakpastian hukum dan kehati-hatian pengambil kebijakan dinilai menjadi faktor yang menghambat akselerasi ekonomi nasional menuju target pertumbuhan lebih tinggi.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada isu tata kelola Danantara. Kekhawatiran terkait transparansi dan struktur pelaporan lembaga tersebut disebut menjadi salah satu pertimbangan Fitch Ratings saat menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Maret 2026.
Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.320 hingga Rp17.380 per dolar AS. (Sn)