Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau loyo pada pembukaan perdagangan Rabu (29/4/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 32 poin atau sekitar 0,19 persen, yang membawanya ke posisi Rp17.275 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.243.
Anjloknya kurs Rupiah kali ini tidak lepas dari kombinasi sentimen negatif global, mulai dari kebuntuan diplomasi di Timur Tengah hingga guncangan di internal organisasi negara pengekspor minyak (OPEC).
Diplomasi AS-Iran Menemui Jalan Buntu
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa faktor utama yang menekan Rupiah adalah kegagalan negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Iran sebenarnya sempat menyodorkan proposal baru terkait pembukaan akses Selat Hormuz, namun pihak AS cenderung skeptis.
“Pasar merespons negatif macetnya dialog ini. Teheran enggan membahas isu nuklir sebelum permusuhan dihentikan, sementara AS tetap pada pendiriannya. Akibatnya, harga minyak mentah melambung sejak sesi Asia kemarin dan memicu kecemasan akan lonjakan inflasi global,” jelas Josua.
Ketidakpastian ini membuat investor khawatir bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mengambil kebijakan moneter yang jauh lebih ketat atau berhati-hati, yang secara otomatis memperkuat posisi dolar AS di pasar instrumen aman (safe haven).
Efek Kejut Mundurnya UAE dari OPEC
Selain isu Iran, pasar keuangan juga dikejutkan oleh langkah berani Uni Emirat Arab (UAE). Negara kaya minyak tersebut secara resmi mengumumkan pengunduran diri dari keanggotaan OPEC dan OPEC+ yang mulai berlaku efektif pada 1 Mei 2026 mendatang.
Langkah UAE ini dinilai menambah keruh tensi geopolitik dan memicu ketidakpastian pasokan energi dunia di masa depan. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas energi.
Proyeksi Pergerakan Hari Ini
Berdasarkan kondisi fundamental dan sentimen yang berkembang, para analis memprediksi Rupiah masih akan berada di zona merah sepanjang hari ini.
-
Rentang Pergerakan: Rp17.200 – Rp17.325 per dolar AS.
-
Faktor Penentu: Dinamika harga komoditas dan rilis data kebijakan moneter global.
Pemerintah dan pelaku pasar kini terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, mengingat kawasan tersebut merupakan jalur vital perdagangan energi internasional yang jika terganggu, dapat mengerek biaya logistik dan inflasi domestik lebih tinggi lagi. (Sn)