Ada Apa dengan Parsadaan (Persatuan) Pomparan Komunitas Semarga?

Wilmar Eliaser Simandjorang
Wilmar Eliaser Simandjorang

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si

Tidak semua komunitas semarga memilih menyebut dirinya parsadaan. Ada yang memakai istilah punguan, pomparan, partamiangan, perserikatan, atau ikatan. Namun ketika sebuah komunitas secara sadar memilih kata parsadaan, itu bukan sekadar soal nama. Itu adalah pernyataan jati diri: keputusan untuk hidup sebagai satu kesatuan, bukan sekadar kumpulan orang yang kebetulan berasal dari garis keturunan yang sama.

Mengapa “Parsadaan” Dipilih, dan Apa Artinya di Masa Depan?

Pilihan ini tidak pernah lahir secara instan. Ia biasanya tumbuh dari kesadaran kolektif—bahwa ada asal-usul yang sama, ada tanggung jawab moral untuk saling menopang, dan ada kebutuhan menjaga nilai leluhur di tengah perubahan zaman. Karena itu, parsadaan bukan hanya organisasi, tetapi cara memahami diri sebagai “kita”, bukan hanya “aku”.

Makna Dasar: Satu yang Hidup. Secara sederhana, parsadaan berasal dari kata “sada” yang berarti satu. Tetapi “satu” di sini bukan angka, melainkan prinsip hidup: satu rasa, satu tanggung jawab, satu kesadaran.

Artinya, menjadi bagian dari parsadaan bukan hanya soal terdaftar dalam komunitas, tetapi menyadari bahwa kehidupan pribadi selalu terhubung dengan kehidupan bersama. Bedanya dengan Istilah Lain. Istilah lain tetap penting, tetapi memiliki kedalaman yang berbeda:

  • Punguan lebih pada tempat berkumpul
  • Pomparan menekankan garis keturunan
  • Partamiangan lebih pada forum pertemuan
  • Ikatan menunjukkan hubungan sosial
  • Perserikatan bersifat organisasi modern dan formal

Semua sah, tetapi parsadaan membawa makna yang lebih dalam: kesatuan yang hidup, bukan sekadar struktur. Nama Bukan Sekadar Nama. Ungkapan “apalah arti sebuah nama” sering dipakai untuk meremehkan perbedaan ini. Padahal dalam makna aslinya, nama justru penting karena membentuk cara berpikir dan bertindak. Nama bukan penjara, tetapi juga bukan sesuatu yang kosong.

Dalam konteks parsadaan, nama menjadi arah. Ia mengingatkan bahwa komunitas ini dibangun bukan hanya untuk berkumpul, tetapi untuk tetap satu dalam nilai dan tanggung jawab. Di sinilah relevansi pemikiran Shakespeare: dalam karya Romeo and Juliet, melalui tokoh Juliet, ia menyatakan bahwa nama tidak boleh menghalangi esensi seseorang. Shakespeare tidak menolak pentingnya nama, tetapi mengkritik ketika nama (seperti keluarga atau identitas sosial) menjadi penghalang kemanusiaan. Artinya, nama tidak absolut, tetapi juga tidak boleh diabaikan—karena di balik nama tetap ada makna yang membentuk cara manusia hidup bersama.

Tantangan Zaman Sekarang. Di era modern, ikatan berbasis marga tidak lagi otomatis menjadi pusat kehidupan. Generasi muda hidup dalam dunia yang lebih bebas, lebih individual, dan lebih terbuka. Di titik ini, parsadaan menghadapi tantangan: apakah ia masih hidup sebagai kesatuan, atau hanya tinggal nama organisasi?

Banyak komunitas mulai bergeser—dari kesatuan nilai menjadi sekadar struktur kegiatan. Dari rasa menjadi administrasi. Dari “kita” menjadi “agenda”. Pentingnya Regenerasi Nilai karena itu, parsadaan tidak cukup diwariskan sebagai nama. Ia harus dihidupkan kembali melalui pendidikan nilai sejak dini—dalam keluarga, dalam interaksi sosial, dan dalam pengalaman bersama. Tanpa regenerasi, parsadaan hanya akan menjadi simbol. Dengan regenerasi, ia menjadi ruang pembentukan karakter dan kesadaran kolektif.

Relevansi Masa Depan. Justru di tengah dunia yang semakin terpecah dan individual, kebutuhan akan kesatuan seperti parsadaan menjadi semakin penting. Bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai jawaban masa depan: bagaimana manusia tetap terhubung tanpa kehilangan jati diri.

Pertanyaan akhirnya sederhana namun mendalam: apakah kita masih hidup sesuai dengan nama yang kita gunakan? Jika parsadaan benar-benar dihidupi, ia akan menjadi kekuatan yang bertahan lintas generasi. Tetapi jika hanya tinggal nama, ia perlahan akan kehilangan maknanya—meski tetap terdengar, ia tidak lagi terasa.@

***

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI) selaku Ketua Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba (PP_DT)

Scroll to Top