Jakarta|EGINDO.co Mata uang Garuda diprediksi akan mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bakal bergerak liar dengan kecenderungan melemah di rentang sensitif Rp17.160 hingga Rp17.200.
Kondisi ini dipicu oleh eskalasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, serta peringatan keras dari lembaga keuangan internasional terkait kebijakan belanja negara.
Konflik Selat Hormuz: Pemicu Utama Guncangan
Memburuknya hubungan diplomatik dan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis Selat Hormuz menjadi faktor utama yang membebani nilai tukar. Sebagai jalur distribusi minyak mentah dunia yang krusial, ketegangan di wilayah tersebut telah:
Mendongkrak Harga Minyak: Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global memicu lonjakan harga komoditas migas.
Sentimen Risk-Off: Investor cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti Dolar AS.
Ancaman Inflasi Global: Kenaikan biaya energi dipastikan akan merembet pada kenaikan harga barang secara umum, yang memperkeruh prospek pemulihan ekonomi dunia.
Peringatan IMF: Jaga Napas APBN
Di tengah ketidakpastian ini, Dana Moneter Internasional (IMF) secara khusus memberikan catatan kepada Pemerintah Indonesia. IMF menekankan pentingnya prudensi fiskal agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
“Pemerintah Indonesia diimbau untuk tidak melakukan belanja negara secara berlebihan. Diperlukan skala prioritas yang ketat untuk menghadapi dampak rambatan dari ketidakpastian ekonomi di Timur Tengah,” tulis laporan IMF.
Peringatan ini muncul sebagai respons atas risiko defisit anggaran yang bisa membengkak jika pemerintah terlalu ekspansif saat penerimaan negara berisiko terganggu oleh gejolak global.
Proyeksi Pasar
Para analis menilai bahwa jika tensi di Timur Tengah tidak segera mereda, Rupiah berisiko menembus level psikologis baru. Selain memantau pergerakan harga minyak mentah, pelaku pasar juga akan mencermati langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valas untuk meredam volatilitas yang terlalu tajam. (Sn)