Jakarta | EGINDO.com – Kecerdasan buatan (AI) jadi gelombang PHK risiko baru di perusahaan menentukan perilaku karyawan. Peran pemimpin perusahaan menjadi krusial dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang semakin tinggi. Dalam kajiannya, Ketua komunitas doktoral (S3) Universitas Prasetiya Mulya (UPM), Riski Fajriansyah, menilai pendekatan kepemimpinan berbasis nilai perlu dikedepankan.
Ketidakpastian ekonomi global memicu sentimen negatif. Pelemahan konsumsi rumah tangga, menyusutnya kelas menengah, meningkatnya kekhawatiran pengangguran akibat kecerdasan buatan (AI), serta gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) memunculkan risiko baru di organisasi, yakni ketidakselarasan kepentingan antara perusahaan dan karyawan.
Pasar yang sedang bergejolak, perusahaan berfokus menjaga keberlangsungan bisnis, sementara karyawan berupaya mempertahankan pendapatan dan pekerjaan. Meski tampak sejalan, perbedaan perspektif dan minimnya komunikasi kerap memicu konflik. Tekanan ekonomi juga mendorong sebagian karyawan masuk ke mode bertahan hidup, yang berpotensi menggeser nilai dan meningkatkan risiko fraud serta pelanggaran etika.
Di sisi lain, pengetatan pengawasan oleh perusahaan justru dapat menambah tekanan karena karyawan merasa diawasi berlebihan. “Dalam situasi penuh tekanan, organisasi tidak cukup hanya mengandalkan sistem dan pengawasan. Peran pemimpin sebagai penjaga nilai perusahaan menjadi penentu arah perilaku karyawan,” kata Riski dalam keterangan yang dikutip EGINDO.com pada Sabtu (18/4/2026).
Sementara itu, Konsultan manajemen sekaligus dosen UPM, Andreas Budihardjo, menilai tantangan utama organisasi saat ini tidak hanya terletak pada sistem, tetapi juga pada upaya menjaga integritas di tengah tekanan, khususnya ekonomi. Ia menegaskan, perusahaan tidak cukup mengandalkan pengawasan, melainkan membutuhkan peran pemimpin untuk membangun kepercayaan dan menekan risiko fraud secara berkelanjutan.
Menurut dia, konsep ethical leadership semakin relevan, dimana pemimpin tidak hanya memastikan kepatuhan, tetapi juga menjadi teladan dalam integritas, keadilan, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Peran ini dinilai mampu membentuk norma dan nilai organisasi yang memengaruhi pengambilan keputusan karyawan. Katanya, ketika karyawan merasakan keadilan dan konsistensi nilai dari pemimpin, tingkat kepercayaan akan meningkat sehingga dorongan untuk merasionalisasi tindakan menyimpang menurun. Dengan demikian, ethical leadership tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga menjadi mekanisme pencegahan fraud yang lebih berkelanjutan.@
Bs/fd/timEGINDO.com