Medan | EGINDO.com – Nilai tukar rupiah diatas Rp17.000,- bertahan selama sepekan, sepertinya pemerintah berkehendak dengan kondisi nilai tukar rupiah Rp.17.000 per Dollar AS. Namun, jangan sampai diatas Rp18.000,- per Dollar AS.
Hal itu dikatakan Brilian Moktar, SE, MM, MH pada Jum’at (17/4/2026) petang menjawab pertanyaan EGINDO.com di Medan ketika penutupan pada masa akhir perdagangan pada hari Jum’at kemarin.
Dijelaskannya selama sepekan nilai tukar rupiah di pasar spot tidak mampu keluar dari tekanan dan pada Jumat (17/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.189 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal itu membuat rupiah melemah 0,29% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.139 per dolar AS.

Pakar Ekonomi dan politisi senior Brilian Moktar menilai, pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga menembus level Rp 17.200 per dolar AS pada perdagangan pekan depan. “Kayaknya (pekan depan) bakal naik lagi. Hari Senin akan naik lagi dan menembus Rp 17.200,- itu pun kalau Bank Indonesia masih sanggup intervensi, baru mantap,” katanya memprediksi.
Menurutnya, pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari global maupun domestik. Dari sisi global, harga minyak yang masih tinggi menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar. Sedangkan dari dalam negeri, ketahanan cadangan devisa serta kondisi fiskal Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Brilian Moktar memberikan pandangan terkait langkah yang dapat diambil masyarakat, khususnya investor, dalam menghadapi kondisi rupiah yang melemah. Disarankannya para investor untuk mempertimbangkan pengalihan aset ke dolar AS, seiring prospek penguatan mata uang tersebut ke depan. “Perkembangan terkini, akhir tahun ini atau awal tahun depan dollar Amerika mungkin bisa terjung payung,” katanya menegaskan.@
Fd/timEGINDO.com