Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dip_Ec., M.Si
Ada satu pelajaran sederhana yang kerap tersembunyi dalam kehidupan bersama: bahwa ketenangan sering kali lebih efektif daripada ketegasan yang tergesa. Dalam buku klasik Make Way for Ducklings karya Robert McCloskey, seekor induk bebek menuntun anak-anaknya melewati kota yang sibuk—bukan dengan melawan arus, melainkan dengan arah yang jelas, kesabaran yang utuh, dan keteguhan yang tidak perlu berteriak.
Menariknya, justru dalam ketenangan itu, ruang-ruang yang semula padat perlahan memberi jalan. Keramaian mereda, kendaraan berhenti, dan situasi yang semula bergerak tanpa kendali menjadi tertata oleh kehadiran yang tidak memaksa. Dari situ kita belajar satu hal penting: keteraturan sering lahir bukan dari dominasi, melainkan dari keteladanan yang tenang.
Refleksi ini menjadi relevan ketika kita menengok kehidupan bersama dalam komunitas apa pun—keluarga besar, organisasi, maupun masyarakat yang terikat oleh sejarah dan kedekatan. Dalam ruang seperti itu, gesekan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ia hadir sebagai bagian dari proses hidup bersama, seperti angin yang bergerak di sela pepohonan: kadang terasa lembut, kadang cukup kuat untuk disadari.
Namun persoalan utama dalam kebersamaan bukanlah adanya perbedaan, melainkan bagaimana perbedaan itu dikelola ketika peran dan waktu berubah. Ada masa ketika arah ditentukan oleh figur-figur yang menjadi rujukan utama, yang menggenggam kemudi perjalanan dan memastikan arah tetap terjaga. Keputusan mereka membentuk fondasi awal yang tidak kecil artinya bagi keberlanjutan kebersamaan itu sendiri.
Seiring waktu, ruang kepemimpinan pun mengalami pergeseran alami. Dari dalam proses panjang itu, lahirlah figur yang melanjutkan arah—bukan sebagai sosok yang datang dari luar, melainkan sebagai bagian dari perjalanan itu sendiri. Ia tumbuh dari pengalaman, ditempa oleh dinamika, dan dipercaya untuk meneruskan arah yang telah dibangun sebelumnya.
Di titik inilah sering muncul tantangan yang tidak selalu tampak di permukaan. Masa lalu tidak serta-merta hilang, sementara masa kini menuntut kejelasan peran. Dalam situasi seperti ini, arah bisa terasa berlapis, bukan karena niat yang bertentangan, tetapi karena transisi yang belum sepenuhnya selesai dirasakan oleh semua pihak.
Padahal, dalam banyak sistem kehidupan, kejelasan arah merupakan kunci utama keberlanjutan. Sebagaimana laut yang bergerak dengan satu keteguhan arus, kebersamaan pun membutuhkan kepercayaan pada satu arah yang sedang dijalankan, tanpa kehilangan penghormatan pada proses yang telah membentuknya.
Di sinilah letak pentingnya kebijaksanaan dalam kepemimpinan: bukan hanya soal memegang kendali, tetapi juga soal memberi ruang agar kendali itu dapat tumbuh dan diterima secara wajar oleh yang melanjutkan. Menyiapkan penerus adalah bagian dari tanggung jawab; tetapi memberi kepercayaan penuh untuk menjalankannya adalah bentuk kedewasaan yang lebih tinggi dalam sebuah kebersamaan.
Dalam konteks inilah kearifan lokal Batak menawarkan perspektif yang sangat mendalam dan relevan. Dua falsafah yang telah lama hidup dalam budaya ini menyimpan cara pandang yang jernih tentang dinamika hubungan manusia. “Bangkona do hau na jonok marsidogosan.” Kayu yang berdekatan pasti akan bergesekan.
Falsafah ini tidak memandang gesekan sebagai kegagalan, melainkan sebagai konsekuensi alami dari kedekatan. Dalam relasi apa pun yang hidup, perbedaan cara pandang dan peran adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Justru dari gesekan itulah proses saling memahami dan saling membentuk sering kali lahir.
Sementara itu, falsafah berikutnya menghadirkan harapan yang lebih besar: “Tampulon aek do bada ni na marhaha anggi.” Air yang terbelah akan kembali menyatu. Di balik ungkapan ini tersimpan keyakinan bahwa perbedaan tidak bersifat final. Sejauh apa pun aliran sempat terpisah, ia tetap membawa asal yang sama dan pada waktunya akan mencari kembali titik temu dan keutuhan.
Kedua falsafah ini menghadirkan satu kesadaran penting: kebersamaan tidak dituntut untuk bebas dari gesekan, tetapi untuk memiliki kemampuan kembali menyatu setelah perbedaan terjadi. Di sinilah nilai budaya menjadi relevan bukan hanya sebagai identitas, tetapi sebagai panduan etis dalam mengelola kehidupan bersama.
Dalam ruang kebersamaan yang dewasa, posisi tidak lagi semata-mata soal berada di depan atau di belakang. Ada saatnya seseorang berada di garis depan untuk memimpin, ada saatnya berdiri di samping untuk menguatkan, dan ada kalanya berada di belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Semua itu bukan penurunan peran, melainkan bentuk lain dari kontribusi yang sama pentingnya.
Kebijaksanaan dalam relasi seperti ini terletak pada kemampuan membaca waktu. Ketika kepemimpinan telah berpindah, maka yang dibutuhkan bukan lagi penegasan arah yang lama, melainkan dukungan agar arah yang baru dapat berjalan dengan utuh dan dipercaya. Pada akhirnya, yang dijaga dalam sebuah kebersamaan bukan hanya struktur peran, melainkan ikatan yang membuat perjalanan itu tetap memiliki makna. Sebab tanpa ikatan itu, arah sejelas apa pun akan kehilangan ruhnya.
Damai, dalam pengertian ini, bukanlah ketiadaan perbedaan, melainkan kesediaan untuk merawat perbedaan agar tidak memutuskan hubungan. Ia tumbuh dari keikhlasan untuk memberi ruang, dari kebijaksanaan untuk mempercayai, dan dari kerendahan hati untuk tidak selalu berada di pusat kendali.
Dan mungkin seperti barisan kecil anak bebek yang menyeberangi kota dalam keteraturan yang tenang, kehidupan bersama pada akhirnya hanya membutuhkan satu hal yang sederhana namun mendasar: kesediaan untuk berhenti sejenak dari ego, memahami peran masing-masing, dan memberi jalan bagi arah yang sedang dijalankan bersama. Sebab di sanalah damai menemukan bentuknya yang paling nyata—bukan sebagai konsep, tetapi sebagai praktik dalam kehidupan yang terus bergerak.@
***
Penulis adalah Ketua Pergerakan Penyelamaatan Kawasan danau Toba (PP_DT)/Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)