Jakarta | EGINDO.com – Program konservasi lanskap Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas, membantu manusia hidup damai dengan satwa liar. Pertanyaannya apakah Anda bisa berjalan puluhan kilometer di bawah terik matahari atau berjalan dengan susah payah melalui hujan lebat di tempat di mana harimau dan gajah berkeliaran? Apakah mengendarai sepeda motor di “medan” yang licin dan berlumpur, serta menavigasi habitat buaya dengan perahu terdengar sangat berbahaya?
Bagi divisi Konservasi Lanskap di Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas, hal-hal itu adalah bagian dari tugas-tugas mereka dalam mendukung program konservasi spesies satwa liar. Program konservasi sangat dibutuhkan. Selama 25 tahun terakhir, perburuan liar, perambahan habitat dan konflik manusia dan gajah telah menyebabkan penurunan populasi gajah Sumatera yang mengkhawatirkan. Dengan fokus utama pada tiga prioritas satwa liar dan sepuluh spesies pohon langka, program konservasi APP mendukung inisiatif Pemerintah Indonesia untuk melindungi flora dan fauna yang terancam. Tim konservasi difokuskan untuk melindungi dan melestarikan gajah Sumatera yang telah diklasifikasikan sebagai Sangat Terancam Punah.
APP Sinarmas memahami pentingnya melaksanakan program konservasi untuk melindungi satwa liar yang terancam punah. Untuk itu Tim Biodiversity Conservation bertanggung jawab untuk memastikan pelaksanaan program konservasi, seperti pemantauan satwa liar dan habitatnya melalui pemasangan jebakan kamera dan kalung GPS selama patroli untuk mengurangi konflik.
Agar program konservasi dapat terlaksana secara maksimal, tidak kalah pentingnya juga melibatkan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah daerah dan masyarakat, oleh karena itu APP juga turut membantu mengedukasi dan mensosialisasikan warga desa untuk hidup damai berdampingan dengan makhluk-makhluk tersebut. Salah satu program kebanggaan APP adalah inisiatif desa ramah gajah, yang merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi dan konservasi hewan langka dengan mendorong “koeksistensi” dengan gajah.
Didukung oleh Yayasan Konservasi Satwa Liar Indonesia (YKSLI) dan dengan bantuan Forum Konservasi Gajah Indonesia di Desa Jadimulya dekat PT Karawang Ekawana Nugraha (PT KEN), wilayah konsesi restorasi ekosistem APP Sinarmas di bentang alam Padang Sugihan dengan melibatkan perwakilan masyarakat desa dalam pelatihan mitigasi konflik dengan gajah liar dengan prinsip koeksistensi.
APP bekerja dengan berbagai pakar dan pengamat gajah seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa (PJHS), YKSLI, dan lainnya untuk melakukan pelatihan konservasi gajah dan berbagi strategi mitigasi konflik dengan anggota masyarakat dan pekerja perusahaan.
Selain itu, komitmen untuk tidak membakar juga dideklarasikan di desa untuk memastikan akan ada cukup ruang bagi gajah untuk hidup, karena pembakaran lahan-lah yang menyebabkan menyusutnya habitat dan munculnya konflik.
Ketika desa percontohan berhasil dibentuk, konsep tersebut kemudian diterapkan di dua desa lain yang memiliki sejarah tahunan konflik manusia-gajah. Kini, dua desa lagi menjadi sasaran program desa ramah gajah. “Mental yang kuat dan rasa kebersamaan” adalah dua hal yang sangat diperlukan untuk memahami perilaku alami satwa liar dan prinsip berbagi ruang bersama dengan mereka, kata tim Konservasi.
Melalui sinergi terpadu dan pengelolaan kolaboratif dengan Pemerintah, peneliti, swasta dan masyarakat, dalam memantau, melestarikan dan melindungi spesies, APP berharap dapat terus mendukung pemerintah untuk membantu memberikan peluang bagi satwa liar untuk bertahan hidup di habitat di dalam dan di luar kawasan konservasi dalam jangka panjang dan menghindari kepunahan.@
Bs/app/fd/timEGINDO.com