Daya Beli Tekstil Sempat Menguat, Industri TPT Hadapi Tekanan di Awal 2026

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Kinerja konsumsi masyarakat terhadap produk tekstil dan produk tekstil (TPT) sempat menunjukkan pemulihan yang cukup solid pada periode akhir 2025 hingga awal 2026. Namun, momentum tersebut mulai melemah memasuki akhir Februari hingga Maret 2026 akibat tekanan dari sisi eksternal, khususnya gangguan rantai pasok dan logistik global.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa, mengungkapkan bahwa tren konsumsi domestik sebenarnya telah memberikan sinyal positif sejak Desember 2025. Peningkatan permintaan bahkan berlanjut hingga periode musiman seperti perayaan Imlek dan persiapan Lebaran.

Menurutnya, lonjakan tersebut mencerminkan mulai pulihnya daya beli masyarakat, terutama pada segmen pakaian jadi dan produk tekstil konsumsi. “Secara tren, Desember hingga Februari itu sudah menunjukkan perbaikan yang cukup baik, apalagi didorong momentum hari besar seperti Imlek dan Lebaran,” ujarnya dalam pembukaan Indo Intertex 2026 di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Namun demikian, pemulihan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki akhir kuartal I-2026, industri kembali menghadapi tekanan yang cukup signifikan. Penurunan kinerja ekspor menjadi salah satu faktor utama, seiring terganggunya distribusi bahan baku dan hambatan logistik internasional.

Sejumlah laporan media nasional seperti Bisnis Indonesia dan Kontan juga menyoroti bahwa perlambatan ekspor TPT terjadi di tengah ketidakpastian global, termasuk kenaikan biaya pengiriman dan keterlambatan suplai bahan baku dari negara pemasok utama.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah yang biasanya menjadi katalis positif bagi eksportir, kali ini tidak memberikan dampak signifikan bagi industri tekstil. Hal ini disebabkan oleh struktur biaya produksi yang sebagian besar masih bergantung pada bahan baku impor dan transaksi berbasis dolar AS.

Kondisi tersebut membuat margin industri tidak serta-merta membaik meskipun kurs rupiah melemah. Pelaku usaha justru menghadapi tekanan ganda, baik dari sisi biaya maupun permintaan eksternal.

Ke depan, pelaku industri berharap adanya dukungan kebijakan yang lebih kuat, khususnya dalam menjaga stabilitas rantai pasok dan meningkatkan daya saing produk tekstil nasional di pasar global, sekaligus mempertahankan momentum pemulihan konsumsi domestik menjelang periode Lebaran. (Sn)

Scroll to Top