Makassar|EGINDO.co Pelaku industri perjalanan haji dan umrah memperkirakan biaya ibadah umrah berpotensi mengalami kenaikan signifikan dalam waktu dekat, bahkan dapat mencapai kisaran Rp30 juta per jamaah. Lonjakan ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga bahan bakar pesawat (avtur) seiring memanasnya konflik geopolitik di kawasan Asia Barat.
Kenaikan harga avtur tersebut berdampak langsung pada biaya operasional maskapai penerbangan, yang menjadi komponen terbesar dalam paket perjalanan umrah. Sejumlah maskapai yang melayani rute haji dan umrah pun telah mulai menyesuaikan tarif penerbangan.
Salah satu pelaku usaha travel mengungkapkan bahwa kenaikan harga tiket sudah mulai terasa. Dalam pernyataannya pada program Sapa Indonesia Siang di Kompas TV, Selasa (14/4/2026), ia menyebutkan bahwa tarif tiket haji mengalami kenaikan sekitar Rp800 ribu per orang dibandingkan sebelumnya.
“Dampak kenaikan avtur tidak bisa dihindari. Untuk umrah, penyesuaian biaya pasti terjadi. Saat ini saja, tiket haji kami sudah naik sekitar Rp800 ribu per jamaah,” ujarnya.
Selain faktor bahan bakar, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut memberi tekanan pada biaya perjalanan, mengingat sebagian besar transaksi terkait umrah dilakukan dalam mata uang asing.
Sejumlah asosiasi penyelenggara perjalanan ibadah menilai kondisi ini dapat memengaruhi minat masyarakat, terutama bagi calon jamaah dengan anggaran terbatas. Namun demikian, permintaan umrah dinilai masih cukup kuat, mengingat tingginya animo masyarakat Indonesia untuk beribadah ke Tanah Suci.
Media ekonomi seperti CNBC Indonesia dan Bisnis Indonesia sebelumnya juga melaporkan bahwa volatilitas harga energi global akibat konflik geopolitik berpotensi meningkatkan biaya transportasi udara secara luas, termasuk untuk penerbangan ibadah.
Pelaku industri berharap adanya stabilisasi harga energi serta dukungan kebijakan pemerintah guna menjaga keterjangkauan biaya umrah di tengah tekanan global yang meningkat. (Sn)