Pelatihan Pembuatan Biogas dari Sampah Makanan, Sofyan Tan: Medan Tidak Menyandang Kota Terbersih

Anggotq DPR RI, Sofyan Tan bersama dengan Peneliti BRIN Prasetiyadi
Anggotq DPR RI, Sofyan Tan bersama dengan Peneliti BRIN Prasetiyadi

Medan | EGINDO.com – Pelatihan pembuatan biogas dari sampah makanan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), pada Sabtu (11/4/2026) menggelar pelatihan pembuatan biogas dari sampah makanan skala rumah tangga di Kota Medan, di Hotel Grand Kanaya Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Anggota DPR RI, dr Sofyan Tan, dalam sambutannya menyampaikan kondisi energi saat ini tengah menghadapi tantangan besar, baik di tingkat nasional maupun global. Menurutnya, krisis energi yang terjadi tidak terlepas dari situasi internasional, termasuk konflik geopolitik yang memengaruhi pasokan energi dunia.

Katanya Indonesia saat ini sangat bergantung pada minyak dan gas dari luar negeri. “Dahulu kita adalah negara penghasil gas, tetapi sekarang justru menjadi pengimpor. Ketergantungan ini sangat tinggi, sehingga jika pasokan terganggu, kehidupan masyarakat juga akan terdampak, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti memasak,” katanya menyayangkan.

Ditekankannya pentingnya peran BRIN dalam memberikan solusi berbasis riset kepada masyarakat, salah satunya melalui pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif. Selama ini, sampah kerap dianggap tidak bernilai, padahal jika dikelola dengan baik dapat menjadi sumber energi dan pupuk yang bermanfaat. Mengacu pada data, produksi sampah di Kota Medan pada 2023 mencapai sekitar 2.000 ton per hari. Namun, hanya sekitar 800 ton yang berhasil diangkut ke tempat pembuangan akhir, sementara sisanya belum tertangani secara optimal.

Menurutnya, salah satu penyebab mengapa kebersihan kota masih menjadi tantangan. Padahal, sebagai kota besar, Medan seharusnya mampu menjadi kota yang bersih dan sehat. Untuk itu katanya banyak orang melihat bahwa Kota Medan itu menjadi kota yang jorok.

Sangat disayangkan Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, tetapi tidak pernah menyandang sebagai kota terbersih yang bebas sampah. Padahal sampah adalah sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan dan kita menjadi lebih sehat karena bersih.

Bersih itu sehat. Sofyan Tan juga mengingatkan kebersihan merupakan bagian penting dari kesehatan dan nilai-nilai kehidupan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber penyakit, namun jika diolah dapat menghasilkan energi dan kompos. Dijelaskannya sampah terbagi menjadi tiga jenis, yakni organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Di Medan, lebih dari 50 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik yang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi energi. Melalui pelatihan ini, peserta diajarkan cara mengolah sampah organik menjadi biogas yang dapat digunakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Selain itu, proses tersebut juga menghasilkan kompos yang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam di pekarangan rumah.

Menurut Sofyan Tan, dengan pengolahan, masyarakat bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, yaitu energi alternatif dan pupuk alami. Jika dilakukan secara luas, ini tidak hanya membantu ekonomi keluarga, tetapi juga mengurangi ketergantungan negara terhadap impor energy.

Dinilainya sejumlah daerah di Indonesia telah berhasil mengelola sampah dengan baik, salah satunya Kota Surabaya. Ke depan, Medan juga direncanakan akan mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi, termasuk energi listrik. Diharapkannya masyarakat dapat mengubah cara pandang terhadap sampah, dari yang semula dianggap sebagai limbah menjadi sumber solusi bagi energi, kesehatan, dan kesejahteraan.

Sementara itu Peneliti BRIN, Ir Prasetiyadi, mengungkapkan pengelolaan sampah di Indonesia dinilai harus mampu memberikan nilai manfaat, bahkan keuntungan secara ekonomi agar dapat berjalan berkelanjutan. Untuk itu dalam upaya menjadikan sampah sebagai sumber energi telah dilakukan di sejumlah wilayah. Namun, keberlanjutan operasional masih menjadi tantangan utama.

Diberikannya contoh daerah Solo, dimana program pengelolaan sampah sempat tidak berjalan optimal atau mangkrak. Sementara di Surabaya, sistem pemilahan sampah dinilai mulai berjalan cukup baik. Tanpa partisipasi masyarakat, upaya pemerintah dalam pengelolaan sampah akan sulit berhasil.

Peneliti BRIN, Ir Prasetiyadi menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Medan yang dinilai tidak jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia, di mana masih banyak sampah yang belum tertangani secara optimal. Diingatkannya pengelolaan sampah yang buruk dapat menimbulkan bencana mulai dari longsor hingga pencemaran bau. Selain berdampak langsung terhadap lingkungan, sampah juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.@

Rel/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top