Jakarta|EGINDO.co Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan tenaga kesehatan (nakes) sebagai kelompok prioritas dalam program vaksinasi campak menyusul meningkatnya kasus di sejumlah daerah. Langkah ini diambil karena tingginya risiko paparan yang dihadapi nakes akibat interaksi langsung dengan pasien setiap hari.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, L. Rizka Andalusia, menegaskan bahwa situasi kejadian luar biasa (KLB) campak meningkatkan potensi penularan, terutama bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan.
“Dalam kondisi KLB, risiko penularan kepada kelompok berisiko tinggi, termasuk nakes yang menangani pasien secara langsung, tentu menjadi lebih besar,” ujar Rizka, Kamis (9 April 2026).
Program vaksinasi ini difokuskan pada wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Data Kemenkes menunjukkan sebanyak 39.212 tenaga medis dan 223.150 tenaga kesehatan di 14 provinsi menjadi sasaran utama dalam tahap awal pelaksanaan.
Pemerintah juga memastikan bahwa pelaksanaan vaksinasi bagi nakes tidak akan mengganggu ketersediaan vaksin secara nasional. Kemenkes menjamin stok vaksin tetap mencukupi untuk kebutuhan program imunisasi rutin masyarakat.
Sejumlah media nasional seperti Kompas dan Tempo sebelumnya juga menyoroti pentingnya perlindungan bagi tenaga kesehatan dalam menghadapi lonjakan kasus penyakit menular, termasuk campak, guna menjaga keberlangsungan layanan kesehatan.
Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap dapat menekan risiko penularan di fasilitas layanan kesehatan sekaligus menjaga keselamatan tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam penanganan penyakit menular. (Sn)