Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tekanan pada perdagangan terkini. Berdasarkan data transaksi Bank Indonesia per 9 April 2026, kurs USD berada di kisaran Rp17.094,04 (jual) dan Rp16.923,96 (beli).
Pergerakan ini mencerminkan bahwa rupiah masih bertahan di level psikologis Rp17.000 per dolar AS, meskipun sempat menunjukkan penguatan terbatas dalam beberapa hari terakhir.
Secara historis terbaru, data referensi BI menunjukkan kurs dolar AS sebelumnya berada di kisaran Rp17.177 (jual) dan Rp17.006 (beli) pada 8 April 2026.
Sementara itu, kurs tengah (JISDOR) juga bergerak di sekitar Rp17.009–Rp17.092 per dolar AS dalam periode yang sama.
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari dinamika global. Media internasional seperti Reuters melaporkan bahwa pelemahan rupiah dipicu faktor eksternal, termasuk konflik geopolitik dan arus modal global, yang bahkan sempat mendorong nilai tukar mendekati level terendah sepanjang sejarah di atas Rp17.000 per dolar AS.
Di sisi lain, laporan Liputan6 juga mencatat bahwa kurs dolar di sejumlah bank besar masih bertahan di kisaran Rp17.000, menandakan tekanan belum sepenuhnya mereda.
Meski demikian, terdapat sinyal perbaikan terbatas. Rupiah sempat menguat tipis ke sekitar Rp17.012 per dolar AS pada penutupan perdagangan 8 April 2026, didorong oleh membaiknya sentimen global.
Per 9 April 2026, nilai tukar rupiah masih berada dalam fase volatil dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS. Faktor eksternal tetap menjadi penentu utama, sementara intervensi Bank Indonesia dan sentimen pasar global akan menjadi kunci arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (Sn)