Madrid | EGINDO.co – Spanyol dan empat negara Uni Eropa lainnya menyerukan pajak atas keuntungan tak terduga perusahaan energi sebagai respons terhadap kenaikan harga bahan bakar akibat perang di Timur Tengah, kata Menteri Ekonomi Spanyol Carlos Cuerpo pada hari Sabtu (4 April).
Permintaan tersebut disampaikan dalam surat yang ditujukan kepada Komisioner Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra dan ditandatangani oleh Cuerpo bersama dengan menteri keuangan Austria, Jerman, Italia, dan Portugal, katanya dalam sebuah unggahan di X.
Cuerpo mengatakan langkah tersebut akan “meringankan beban konsumen dan wajib pajak”.
Dalam surat mereka, tertanggal Jumat, para menteri menambahkan bahwa pajak tersebut “juga akan mengirimkan pesan yang jelas bahwa mereka yang mendapat keuntungan dari konsekuensi perang harus melakukan bagian mereka untuk meringankan beban masyarakat umum”, menurut salinan yang diunggah oleh Cuerpo.
Harga minyak dan gas telah melonjak sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, yang mengakibatkan Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz yang vital secara strategis dan kerusakan terjadi pada infrastruktur energi Teluk.
Meskipun Uni Eropa sebagian besar memperoleh minyak dan gasnya dari wilayah selain Teluk, harga global yang tinggi masih memengaruhi bisnis dan rumah tangga.
Para menteri mencatat bahwa pajak darurat serupa telah diterapkan pada tahun 2022 untuk mengatasi kenaikan harga energi yang melonjak setelah invasi Rusia ke Ukraina.
“Mengingat distorsi pasar dan kendala fiskal saat ini, Komisi Eropa harus segera mengembangkan instrumen kontribusi serupa di seluruh Uni Eropa yang didasarkan pada landasan hukum yang kuat,” tulis mereka.
Surat tersebut tidak menyebutkan besaran pajak keuntungan tak terduga yang diusulkan atau perusahaan mana yang akan terpengaruh.
Sumber : CNA/SL