Jakarta|EGINDO.co Pergerakan Harga Batu Bara Acuan (HBA) pada periode pertama April 2026 menunjukkan tren yang tidak seragam. Berdasarkan data terbaru, batu bara dengan kalori tinggi (6.322 kcal/kg GAR) justru mengalami penurunan sebesar 3,05% ke level US$99,87 per ton. Koreksi ini terjadi di tengah dinamika permintaan global yang cenderung fluktuatif.
Sebaliknya, segmen batu bara kalori menengah hingga rendah mencatatkan penguatan, meskipun relatif terbatas. HBA untuk kalori 5.300 kcal/kg GAR naik menjadi US$72,28 per ton, diikuti kalori 4.100 kcal/kg GAR di posisi US$49,99 per ton, serta kalori rendah 3.400 kcal/kg GAR yang mencapai US$35,23 per ton. Kenaikan ini mencerminkan masih adanya permintaan stabil dari pasar negara berkembang yang mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama.
Di sisi lain, kinerja harga mineral logam acuan (HMA) pada awal April 2026 cenderung tertekan. Harga nikel turun ke US$17.092,67 per dmt, disusul oleh koreksi tipis pada kobalt. Logam lainnya seperti timbal dan seng juga mengalami pelemahan, seiring dengan melambatnya aktivitas industri global.
Meski demikian, tidak semua komoditas logam berada dalam tekanan. Aluminium menjadi pengecualian dengan mencatatkan kenaikan ke level US$3.371,97 per dmt. Sementara itu, harga tembaga tercatat berada di kisaran US$12.958 per dmt, mencerminkan pergerakan yang masih dipengaruhi oleh prospek permintaan sektor manufaktur dan energi.
Sejumlah analis menilai tren ini sejalan dengan laporan Bloomberg dan Reuters yang menyoroti ketidakpastian ekonomi global, termasuk perlambatan industri di beberapa negara besar serta penyesuaian permintaan energi dan logam. Kondisi ini membuat harga komoditas bergerak lebih selektif, bergantung pada fundamental masing-masing pasar. (Sn)