IHSG Terkoreksi ke 7.048, Sektor Energi Jadi Penopang di Tengah Tekanan Saham Keuangan

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, di zona merah. Indeks terkoreksi 0,61% ke level 7.048,22 seiring meningkatnya tekanan jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Pelemahan IHSG terutama dipicu oleh kinerja sektor keuangan yang turun 1,17%. Saham-saham perbankan dan jasa keuangan menjadi pemberat utama indeks di tengah sentimen kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah.

Sebaliknya, sektor energi mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan sebesar 2,18%. Penguatan ini ditopang oleh naiknya harga minyak dunia, yang mendorong minat beli pada saham-saham berbasis komoditas energi.

Sejumlah emiten besar turut mengalami tekanan sepanjang perdagangan. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) tercatat bergerak melemah, mencerminkan aksi ambil untung serta rotasi sektor oleh pelaku pasar.

Dari sisi sentimen domestik, pasar juga merespons rencana pemerintah dalam melakukan efisiensi anggaran. Kebijakan ini dinilai berpotensi memengaruhi belanja negara serta pertumbuhan ekonomi jangka pendek, sehingga memicu sikap wait and see di kalangan investor.

Mengutip laporan Reuters, pelemahan pasar saham di kawasan Asia juga dipengaruhi oleh ketidakpastian global, termasuk fluktuasi harga komoditas dan arah kebijakan suku bunga negara maju. Sementara itu, Bloomberg menyoroti bahwa investor cenderung melakukan rebalancing portofolio menjelang awal kuartal kedua, dengan mengalihkan dana ke sektor-sektor yang lebih defensif.

Analis menilai pergerakan IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Stabilitas harga komoditas, arah kebijakan pemerintah, serta dinamika nilai tukar rupiah menjadi variabel kunci yang akan menentukan arah indeks dalam jangka pendek.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan makroekonomi serta kinerja sektoral guna mengantisipasi volatilitas yang masih berpotensi berlanjut. (Sn)

Scroll to Top