Medan | EGINDO.com – Tradisi Cheng Beng, etnis Tionghoa memadati pekuburan Tionghoa di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Etnis Tionghoa menggelar sembahyang kuburan atau Cheng Beng untuk menghormati lelulur yang telah meninggal dunia di Pekuburan Tionghoa.
Pantauan EGINDO.com perkuburan Tionghoa di Yayasan Setia Budi Jl. Ampera Desa Bintang Meriah Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deliserdang Sumatera Utara pada Minggu (29/3/2026) penuh dengan sembahyang kuburan atau Cheng Ben.
Sembahyang kuburan atau Cheng Beng menjadi tradisi yang dilaksanakan oleh etnis Tionghoa setiap tahunnya. Sembahyang kuburan atau “Cheng Beng” dilaksanakan beberapa hari. Untuk Tahun 2026, Cheng Beng dimulai 21 Maret sampai 5 April 2026.
Ramainya sembahyang kuburan atau Chen Beng disebabkan yang datang untuk melaksanakan sembahyang kuburan atau Cheng Beng tidak hanya warga Sumatera Utara, tetapi juga warga yang selama ini merantau ke luar daerah seperti Jakarta dan daerah lainnya.
Sembahyang kuburan atau “Cheng Beng” yang dilakukan etnis Tionghoa diisi dengan berbagai kegiatan seperti membersihkan makam, membakar hio dan menyajikan sesajen berupa buah, kue, lauk sebagai wujud bakti dan kebersamaan keluarga. Poin penting dari Cheng Beng menurut Wong Sun Hok seorang yang melakukan Cheng Beng mengatakan sebagai bentuk penghormatan, kasih sayang, dan bakti anak cucu kepada leluhurnya.

Wong Sun Hok sendiri datang dari Pekan Baru ke Batangkuis khusus untuk sembahyang kuburan bersama keluarganya. “Ya, datang untuk sembahyang kuburan atau Cheng Beng. Saya dan keluarga Pekan Baru dan abang saya dari Jakarta, adik saya dari,” katanya menjelaskan.
Mereka datang ke kuburan itu istilahnya untuk mengenang arwah leluhur yang telah meninggal dunia sekaligus mendoakannya. Hari Minggu ini sudah memasuki puncaknya untuk pelaksanaan Cheng Beng,” kata Wong Sun Hok kepada EGINDO.com.
Sementara itu hal yang hampir sama terlihat di Kompleks Pemakaman Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatra Utara, pada Minggu (29/3/2026). Ratusan warga keturunan Tionghoa tampak memadati area pemakaman untuk melaksanakan tradisi Cheng Beng atau sembahyang leluhur.
“Sembahyang Cheng Beng ini wujud bakti kami kepada leluhur. Kami datang untuk membersihkan makam, mendoakan, dan mengingat jasa-jasa mereka,” kata Antony Lim seorang yang melakukan sembahyang kuburan kepada EGINDO.com.
Menurutnya momen Cheng Beng dimanfaatkan untuk memperkenalkan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda agar tidak melupakan asal-usul keluarga. Anthony Lim datang bersama anak-anaknya agar anak-anaknya tahu letak makam keluarga dan tetap menjaga tradisi.
Setiap tahun, pelaksanaan Ceng Beng di Sergai selalu dipadati warga. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan budaya serta penghormatan masyarakat Tionghoa terhadap leluhur mereka. Selain berdoa, kegiatan ini juga menjadi ajang berkumpul dan bersilaturahmi antaranggota keluarga yang jarang bertemu. Tradisi tahunan tersebut turut membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar.@
Bs/fd/timEGINDO.com