Jakarta|EGINDO.co Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026, dengan koreksi tajam sebesar 1,89% ke level 7.164. Pelemahan ini terjadi setelah reli signifikan pada sesi sebelumnya, yang mendorong investor melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Nilai transaksi justru menunjukkan peningkatan, mencapai Rp32,35 triliun. Lonjakan ini mengindikasikan tingginya aktivitas jual-beli di tengah tekanan pasar, sekaligus mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.
Menurut riset dari Sinarmas Sekuritas, tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi sentimen eksternal. Investor global saat ini mencermati perkembangan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Situasi ini meningkatkan aversi risiko (risk-off), sehingga mendorong aliran dana keluar dari pasar saham emerging markets, termasuk Indonesia.
Sejumlah media internasional seperti Reuters melaporkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global, terutama melalui lonjakan harga energi dan ketidakpastian rantai pasok. Sementara itu, Bloomberg menyoroti bahwa investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Dari dalam negeri, tekanan juga dipicu oleh aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini mempercepat koreksi indeks secara keseluruhan.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap wait and see dalam jangka pendek, sambil memantau perkembangan global serta arah kebijakan moneter utama dunia. Jika ketegangan geopolitik mereda dan stabilitas eksternal terjaga, IHSG berpeluang kembali bergerak lebih stabil.
IHSG berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, seiring kombinasi faktor global dan domestik yang masih membayangi sentimen pasar. (Sn)